KENDARI, Kongkritpost.com- Ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ada misi besar di balik langkah kaki Wali Kota Kendari, dr. Hj. Siska Karina Imran, yang menyusuri satu per satu sentra kerajinan lokal. Waktu terus berjalan menuju 2026. Dan Kendari tak mau sekadar jadi tuan rumah. Harus tampil. Harus diingat jelas jumat (3/4/2025)

Panggungnya bukan kecil. UCLG ASPAC. Forum kota-kota se-Asia Pasifik. Mata dunia akan melihat. Dan yang dipersiapkan bukan hanya seremoni, tapi isi.

Mulainya dari yang paling dekat: UMKM.

Dari Rumah Rupa milik Chairil Anwar, denyut kreativitas itu terasa. Kerajinan tangan, detail, dan penuh karakter. dan produk lama dengan sentuhan baru. Bukan sekadar barang, tapi cerita.

Perjalanan berlanjut. Hati Mulia di BTN PNS.  yang mulai jarang dilirik, kini justru diangkat kembali. Disambung ke sentra tenun khas Kendari. Di sini, identitas itu dirajut. Pelan, tapi pasti.

Yang paling menyita perhatian: The King Tenun di Rahandouna. Anak-anak muda di balik alat tenun. Karya mereka sudah menembus panggung nasional. Kini diarahkan lebih jauh—ke level internasional.

Wali Kota tak datang hanya melihat. Tapi memastikan. Produk harus siap. Kualitas tak bisa kompromi. Produksi harus stabil. Pendampingan wajib jalan.

Instruksi jelas. OPD terkait diminta turun tangan. Bukan sekadar program di atas kertas. Tapi hadir di lapangan. Dampingi pengrajin. Perbaiki kualitas. Siapkan kapasitas.

Karena yang akan ditampilkan nanti bukan sekadar produk. Tapi wajah Kendari.

Ada langkah yang tak banyak disorot, tapi strategis. Pemerintah Kota memesan kain tenun lokal. Bukan untuk pajangan. Tapi dijadikan goodie bag tamu kehormatan. Sederhana, tapi kuat. Setiap tamu pulang, membawa cerita dari Kendari.

Ini bukan hanya promosi. Ini positioning.

Di Ina Mandiri, Tobimeita, cerita itu berulang. Tenun kembali dipesan. Produksi didorong. Rantai ekonomi digerakkan.

Di balik semua itu, ada satu garis besar: kemandirian. Pengrajin didorong tak hanya produksi, tapi juga menciptakan alatnya sendiri. Tidak bergantung. Tidak tertinggal.

Peran Dekranasda ikut disorot. Tak bisa biasa-biasa saja. Harus jadi motor. Harus jadi penghubung antara tradisi dan pasar.

Kendari sedang menyusun puzzle besar. Dari rotan, pandan, hingga tenun. Dari tangan-tangan lokal menuju panggung global.

Ini bukan soal pameran. Ini soal harga diri daerah*