KENDARI, Kongkritpost.com- Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Disnakertrans) Provinsi Sulawesi Tenggara tak ingin momentum Hari Ulang Tahun (HUT) daerah berlalu tanpa dampak nyata. Tahun ini, agenda tak sekadar seremoni. Pemerintah daerah memilih langkah konkret: membuka akses kerja seluas-luasnya bagi masyarakat.

Melalui program Samudra (Sistem Informasi Muda dan Terampil Bekerja), Disnakertrans Sultra memastikan pameran pasar kerja atau job fair kembali digelar mulai 24 April 2026.

Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Provinsi Sultra, L.M Ali Haswandy menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari strategi menekan angka pengangguran dan mempercepat penyerapan tenaga kerja lokal.

“Momentum HUT Sultra ini kami manfaatkan untuk mempertemukan langsung pencari kerja dengan perusahaan. Ini bukan hanya seremoni, tapi solusi konkret,” tegas Ali Haswandy Senin (6/4/2026).

Ia menyebut, sedikitnya 30 perusahaan ditargetkan ambil bagian. Angka ini masih bisa bertambah seiring proses komunikasi yang terus berjalan.

Dua lokasi kini disiapkan sebagai opsi pelaksanaan, yakni Kantor Disnakertrans Sultra atau area Pameran Pembangunan HUT Sultra. Sementara durasi kegiatan diperkirakan berlangsung minimal tiga hari.

“Kami masih mematangkan koordinasi. Waktu sekitar 20 hari ini kami maksimalkan agar pelaksanaan benar-benar siap,” ujarnya.

Namun di balik optimisme itu, ada catatan penting. Keberhasilan job fair tak hanya bergantung pada pemerintah dan perusahaan, tetapi juga kesiapan para pencari kerja itu sendiri.

Ali Haswandy  mengingatkan, kesiapan administrasi dan mental menjadi kunci utama. Tanpa itu, peluang besar bisa lewat begitu saja.

“Kami sudah mulai sosialisasi, termasuk ke mahasiswa. Jangan sampai informasi sudah terbuka, tapi pelamar tidak siap,” katanya.

Jenis pekerjaan yang tersedia nantinya akan mengikuti kebutuhan riil perusahaan dan perkembangan sektor industri. Artinya, fleksibilitas dan kemampuan adaptasi pencari kerja menjadi faktor penentu.

Job fair ini diharapkan bukan sekadar event tahunan, tetapi menjadi instrumen efektif dalam menghubungkan supply dan demand tenaga kerja—yang selama ini kerap timpang.

Jika dimaksimalkan, kegiatan ini bisa menjadi salah satu jawaban atas persoalan klasik ketenagakerjaan di Sulawesi Tenggara: banyak pencari kerja, tapi minim akses yang tepat sasaran.

Kini, bola ada di tangan masyarakat. Kesempatan sudah disiapkan. Tinggal siapa yang benar-benar siap mengambilnya*