KENDARI, Kongkritpost.com-Setelah menjalankan amanah sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs. H. Asrun Lio, M.Hum., Ph.D., bersiap menutup satu bab penting dalam perjalanan pengabdiannya di birokrasi. Kini, ia akan kembali ke dunia akademik, mengejar impian lama: menjadi guru besar.

IMG 20260309 WA0221

Bagi Asrun Lio, posisi Sekda adalah puncak karier bagi seorang ASN, tetapi ambisi intelektualnya masih menggelora. Ia menyadari jika menunda kembali ke kampus, peluang meraih titel akademik tertinggi itu bisa tertunda.

“Setelah mencapai puncak karier sebagai Sekda, saya merasa sudah menjalankan amanah besar bagi Sultra. Namun, cita-cita saya untuk meraih guru besar belum tercapai. Jika menunda kembali ke kampus, peluang itu bisa terlewatkan. Maka saat ini saya memutuskan kembali ke kampus, agar pengabdian di ranah ilmu tetap berlanjut,” ungkapnya.

IMG 20260309 WA0219

Selama menjabat Sekda, Asrun Lio bukan sekadar menjalankan tugas administratif. Ia menjadi jantung birokrasi, mendampingi tiga gubernur Sultra dengan tantangan yang berbeda-beda.

1. Masa Kepemimpinan Ali Mazi – Lukman Abunawas: Krisis Pandemi

Di era Gubernur H. Ali Mazi, Sultra menghadapi krisis global akibat pandemi COVID-19. Pemerintah dituntut menyeimbangkan penanganan kesehatan dengan menjaga ekonomi dan pelayanan publik. Dalam situasi duka, karena gubernur dan wakil gubernur kehilangan istri masing-masing, koordinasi birokrasi menjadi kunci. Asrun Lio memastikan kebijakan berjalan efektif hingga tingkat kabupaten dan kota.

2. Masa Penjabat Gubernur Andap Budhi Revianto: Stabilitas dan Transisi Politik

Ketika Komjen Pol (Purn) Dr. Andap Budhi Revianto menjabat sebagai Penjabat Gubernur, tantangan bergeser ke menjaga stabilitas pemerintahan menjelang agenda demokrasi nasional. Sekda Asrun Lio memastikan birokrasi tetap profesional, netral, dan pelayanan publik tidak terganggu di tengah dinamika politik yang kompleks.

3. Masa Kepemimpinan Andi Sumangerukka – Hugua: Konsolidasi dan Akselerasi Pembangunan

Di awal era Gubernur Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, fokus bergeser pada konsolidasi birokrasi pasca-pilkada, penyelarasan program pembangunan, dan percepatan pembangunan ekonomi. Asrun Lio berperan memastikan kesinambungan program strategis, termasuk infrastruktur dan pelayanan publik, berjalan lancar dan berkelanjutan.

IMG 20260309 WA0223

“Semua ini adalah perjalanan pengabdian. Saya bersyukur menjadi bagian dari proses pembangunan daerah bersama Gubernur, Forkopimda, jajaran pemerintah daerah, dan seluruh masyarakat Sultra,” ujarnya.

Pengalaman panjang di birokrasi, katanya, memberi pelajaran berharga: keberhasilan pemerintahan bukan hanya ditentukan oleh figur tunggal, melainkan kerja kolektif seluruh unsur birokrasi dan dukungan masyarakat.

Kini, Asrun Lio bersiap kembali ke dunia akademik. Ia membawa pengalaman dari ruang-ruang pengambilan kebijakan, dinamika politik, krisis kesehatan, hingga pembangunan daerah. Semua itu menjadi bekal untuk terus membangun sumber daya manusia Sultra dan mendukung generasi berikutnya.

Pengabdian mungkin berganti ruang, tetapi semangatnya tetap sama: bekerja untuk kemajuan daerah dan generasi yang akan datang.

Bagi ASN dan civitas akademika, langkah Asrun Lio menjadi contoh bagaimana karier birokrasi dan akademik bisa saling melengkapi, dan bagaimana ambisi intelektual tetap bisa dijalankan meski telah mencapai posisi tertinggi di pemerintahan daerah*