KONAWE, Kongkritpost.com- Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara memperkuat ketahanan pangan daerah melalui penguatan sistem perbenihan padi. Upaya tersebut ditandai dengan peresmian Mesin Rice Seed Sorter STS-600 dan Auto Scale Machines sekaligus peluncuran kemasan benih padi “Sanggoleo Sultra” di UPTD Balai Benih Induk (BBI) Wawotobi, Kabupaten Konawe, Selasa (30/12/2025).
Peresmian dilakukan langsung oleh Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, yang menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan denyut nadi kehidupan masyarakat dan penopang ekonomi daerah. Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian sangat ditentukan oleh ketersediaan benih bermutu, karena benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang sehat, produktif, dan adaptif terhadap lingkungan.
Saat ini, Sulawesi Tenggara memiliki luas lahan sawah sekitar 96 ribu hektare, termasuk pencetakan sawah baru tahun 2025 seluas 6.745 hektare. Kebutuhan benih mencapai sekitar 2.400 ton per musim tanam. Pemerintah terus meningkatkan produksi benih bersertifikat, menyempurnakan proses pascapanen, serta mengoptimalkan distribusi agar menjangkau petani secara merata.
UPTD BBI Wawotobi kini mengoperasikan teknologi otomasi mutakhir berupa Rice Seed Sorter STS-600 berkapasitas 400–600 kilogram per jam yang dipadukan dengan Auto Scale Machine yang mampu mengemas hingga 600 kemasan per jam. Teknologi sensor presisi dan sistem digital membuat proses sortir dan pengemasan benih lebih akurat, higienis, serta meminimalkan kesalahan manusia dan risiko kontaminasi. BBI Wawotobi menjadi satu-satunya Balai Benih Induk di Indonesia yang mengoperasikan kombinasi teknologi tersebut secara terpadu, menghasilkan benih dengan tingkat kemurnian fisik hingga 99 persen dan daya tumbuh yang lebih seragam.
Untuk musim tanam MT II Tahun 2025/2026, BBI Wawotobi memproduksi benih padi bersertifikat varietas Ciherang dan Inpari 42, menggunakan sumber Benih Dasar (BD) berlabel putih yang diolah menjadi Benih Pokok (BP) berlabel ungu, dengan potensi produksi 7–12 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare. Peluncuran kemasan benih “Sanggoleo Sultra” menjadi simbol kemandirian benih daerah yang berakar dari kearifan lokal masyarakat Tolaki, menghormati Sanggoleo Mbae, dewa padi, sebagai doa untuk hasil panen melimpah.
Gubernur juga menyaksikan demonstrasi pemanfaatan teknologi modern lainnya, termasuk aplikasi pestisida menggunakan drone, sebagai bagian dari percepatan modernisasi pertanian dan peningkatan efisiensi budidaya. Ia berharap melalui penguatan sarana perbenihan dan sinergi seluruh pemangku kepentingan, Sultra dapat menjadi pusat produksi benih unggul regional dan mengurangi ketergantungan benih dari luar daerah.
Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sultra menargetkan produksi padi daerah mencapai satu juta ton pada tahun 2026. Gubernur menegaskan, upaya ini membangun kemandirian benih daerah, memperkuat identitas produk lokal, dan mendorong pelaku perbenihan bekerja lebih profesional dan berdaya saing(Red)


Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook