KENDARI, Kongkritpost.com- Pemerintah Kota Kendari memilih mengubah cara menghadapi persoalan kesehatan. Jika selama ini penanganan lebih banyak dilakukan setelah masyarakat jatuh sakit, kini langkah pencegahan diperkuat hingga ke tingkat kelurahan. Melalui pembentukan Kelurahan Siaga TBC dan peluncuran program “Paket Sehat Spesial”, pemerintah ingin menemukan lebih cepat warga yang berisiko, sekaligus mempercepat penurunan angka stunting.

Program tersebut diluncurkan dalam Pertemuan Koordinasi Bidang Kesehatan yang digelar di salah satu hotel di Kota Kendari, Selasa (14/7/2026). Acara dihadiri langsung Wali Kota Kendari dr. Hj. Siska Karina Imran, unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, kepala organisasi perangkat daerah, camat, lurah, kepala puskesmas, kader Posyandu, hingga Tim Penggerak PKK.
Peluncuran Kelurahan Siaga TBC mengusung slogan “Kendari Tuntas TBC”. Sebanyak 62 kelurahan ditetapkan sebagai lokus utama pencarian kasus dan pengawasan faktor risiko penularan penyakit tuberkulosis. Setiap kelurahan akan menjadi garda terdepan dalam mendeteksi warga yang diduga terpapar TBC, melakukan pelacakan kontak erat, hingga mengedukasi masyarakat agar tidak lagi menganggap penyakit tersebut sebagai persoalan biasa.

“Hari ini kita melaksanakan rapat koordinasi bidang kesehatan yang terintegrasi sekaligus launching Kelurahan Siaga TBC. Sebanyak 62 titik akan menjadi pusat identifikasi untuk menelusuri faktor risiko, termasuk kondisi lingkungan yang berpotensi menyebabkan penularan TBC,” ujar Wali Kota Siska.
Data Dinas Kesehatan Kota Kendari menunjukkan TBC masih menjadi tantangan besar. Pada 2023 tercatat 1.660 kasus, naik menjadi 1.678 kasus pada 2024, lalu melonjak menjadi 2.126 kasus sepanjang 2025. Hingga Juni 2026, telah ditemukan 923 kasus aktif.
Meski demikian, penanganan menunjukkan perkembangan positif. Dari total kasus aktif tersebut, sebanyak 896 pasien atau sekitar 97,1 persen telah menjalani pengobatan. Sebanyak 451 kasus telah dilakukan investigasi kontak erat untuk memutus rantai penularan, sedangkan 75 orang menerima Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).

Selain memerangi TBC, Pemerintah Kota Kendari juga memperkuat upaya menekan angka stunting. Menurut Wali Kota, hasil berbagai intervensi mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Saat awal masa kepemimpinannya, jumlah anak yang mengalami stunting berada di kisaran 500 orang. Pada 2025, angka tersebut berhasil ditekan menjadi sekitar 460 anak.
Program Orang Tua Asuh Stunting yang melibatkan para pejabat daerah juga dipastikan tetap berjalan. Bahkan, Siska meminta Dinas Kesehatan bersama Satgas Stunting segera menyelaraskan seluruh data dengan puskesmas agar setiap anak yang membutuhkan intervensi tidak terlewatkan.

“Sinkronisasi data sangat penting. Pemerintah daerah yang tinggal dan bekerja langsung di lapangan tentu lebih mengetahui kondisi riil masyarakat. Karena itu, data harus benar-benar sama agar penanganannya tepat sasaran,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pemkot Kendari juga mematangkan pelaksanaan “Paket Sehat Spesial”, yakni gerakan pemeriksaan kesehatan gratis yang dipadukan dengan intervensi serentak pencegahan stunting bagi ibu hamil dan balita. Program tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 17 Juli hingga 17 Agustus 2026 di seluruh kelurahan.
Capaian pemeriksaan kesehatan gratis di Kendari sejauh ini tergolong menggembirakan. Pada 2025, realisasinya mencapai 70,49 persen atau 254.880 warga dari target 366.545 orang. Angka tersebut jauh melampaui target nasional sebesar 36 persen dan menjadi yang tertinggi di Sulawesi Tenggara.

Memasuki 2026, tren positif masih berlanjut. Hingga 13 Juli, realisasi pemeriksaan kesehatan gratis telah mencapai 47,08 persen atau 181.780 warga dari target 386.095 orang, melampaui target nasional sebesar 46 persen. Sementara untuk pemeriksaan kesehatan di lingkungan sekolah, capaian telah menyentuh 51,06 persen atau 39.086 siswa dari target 76.549 peserta didik.
Meski angka tersebut sudah berada di atas target nasional, Wali Kota menegaskan pemerintah tidak ingin berpuas diri. Melalui “Paket Sehat Spesial”, cakupan pemeriksaan kesehatan gratis ditargetkan meningkat hingga 90 persen. Untuk mewujudkannya, seluruh lurah, RT, RW, LPM, kader Posyandu, PKK, hingga tokoh masyarakat diminta ikut menggerakkan warga memanfaatkan layanan tersebut.
Bagi Pemerintah Kota Kendari, perang melawan TBC dan stunting tidak cukup dilakukan dari balik meja kantor atau ruang rapat. Keberhasilan hanya bisa diraih jika pemerintah, tenaga kesehatan, aparat wilayah, dan masyarakat bergerak bersama. Karena itu, pembentukan Kelurahan Siaga TBC bukan sekadar peluncuran program baru, melainkan upaya membangun sistem kewaspadaan kesehatan yang dimulai dari lingkungan terkecil, demi mewujudkan Kendari yang lebih sehat, produktif, dan bebas dari ancaman TBC serta stunting(Red)











