KENDARI, Kongkritpost.com-Secangkir kopi menjadi pembuka diskusi Pemerintah Kota Kendari bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan instansi vertikal, dan sejumlah pejabat daerah, Jumat (16/10/2026).
Namun, pertemuan itu bukan sekadar ajang silaturahmi. Sejumlah persoalan yang membutuhkan perhatian bersama ikut dibicarakan, salah satunya dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai dirasakan di Kota Kendari.
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, memilih suasana santai agar pembicaraan berjalan lebih terbuka. Ia ingin setiap pihak menyampaikan persoalan secara langsung, tanpa harus terjebak dalam suasana rapat yang terlalu formal.
“Kita santai saja, namanya coffee morning kita jangan kaku. Langsung saja pada intinya, sambil icip-icip cerita dan diskusi apa yang harus kita perbaiki di Kota Kendari ini,” kata Siska.
Dalam pertemuan tersebut, dampak asap karhutla menjadi salah satu perhatian. Meski sumber kebakaran utama berada di wilayah provinsi tetangga, sebaran asap turut memengaruhi kualitas udara di Kendari.
Situasi ini tidak bisa dianggap sepele. Paparan asap berpotensi mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak yang lebih rentan terhadap pencemaran udara.
Pemkot Kendari pun mengambil langkah antisipasi melalui penerbitan surat edaran tentang penyesuaian kegiatan belajar mengajar. Peserta didik mulai dari tingkat PAUD, TK, SD hingga SMP diarahkan mengikuti pembelajaran dari rumah atau secara daring.
Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi risiko paparan asap selama kondisi udara menjadi perhatian. Di sisi lain, kegiatan belajar tetap perlu berjalan agar siswa tidak kehilangan kesempatan mengikuti pelajaran.
Karena itu, peran sekolah dan orang tua menjadi penting. Pembelajaran dari rumah membutuhkan komunikasi yang baik antara guru dan keluarga, sementara kondisi kesehatan anak juga perlu terus diperhatikan.
Pembahasan mengenai karhutla memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan tidak berhenti pada wilayah tempat kebakaran terjadi. Ketika asap bergerak melintasi daerah, dampaknya bisa dirasakan masyarakat di tempat lain dan membutuhkan respons pemerintah setempat.
Melalui coffee morning ini, Pemkot Kendari juga mendorong koordinasi yang lebih erat dengan Forkopimda dan instansi vertikal. Pemerintah berharap komunikasi antarlembaga tidak hanya berlangsung saat rapat resmi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menyelesaikan persoalan daerah sehari-hari.
Bagi Siska, forum informal seperti ini menjadi ruang untuk bertukar pandangan sekaligus membicarakan hal-hal yang perlu dibenahi di Kendari. Harapannya, persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat dapat ditangani bersama, dengan langkah yang terarah dan sesuai kebutuhan di lapangan*














