KENDARI, Kongkritpost.com- Urusan air bersih tak bisa menunggu sampai keran warga mulai kering. Itulah yang menjadi perhatian Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, saat meninjau intake Anggoeya, Jumat (16/10/2026).

Kunjungan itu dilakukan di tengah informasi prakiraan BMKG mengenai potensi kondisi kering yang diperkirakan berlangsung hingga November. Pemerintah Kota Kendari memilih memeriksa kondisi sumber air lebih awal, sebelum perubahan cuaca berpotensi menambah beban pelayanan.

Di lokasi tersebut, Siska melihat langsung kondisi pengambilan air baku yang menjadi bagian dari sistem penyediaan air bersih. Pemeriksaan ini sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui langkah yang perlu disiapkan menghadapi kemungkinan berkurangnya ketersediaan air.

“Informasi dari BMKG menyebutkan kondisi kekeringan di Kota Kendari diprediksi terjadi sampai November. Karena itu, kami melakukan upaya mitigasi dengan mengecek langsung debit air di WTP Anggoeya untuk memastikan pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat,” ujarnya.

Menurut Siska, kondisi sumber air Anggoeya saat ini masih relatif lebih baik. Namun, situasi tersebut tidak membuat pemerintah merasa cukup. Ketersediaan air baku harus dibarengi pengelolaan yang efektif agar pelayanan tetap menjangkau masyarakat.

Ada persoalan lain yang ikut menjadi pertimbangan. Jumlah pelanggan Perumda Air Minum Tirta Anoa terus bertambah. Artinya, kebutuhan air tidak berhenti pada upaya mempertahankan pasokan yang ada, tetapi juga menyangkut kemampuan memperluas pelayanan.

“Potensinya masih bisa dikatakan lebih baik, tetapi kita masih membutuhkan tambahan formula agar lebih efektif dan bisa menambah jumlah pelanggan yang mendapatkan pelayanan air bersih,” kata Siska.

Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa pekerjaan rumah penyediaan air bersih di Kendari tidak cukup diselesaikan dengan memantau sumber air. Sistem pengolahan, kapasitas pelayanan, dan distribusi juga perlu diperhatikan agar peningkatan kebutuhan warga bisa diimbangi.

Siska pun meminta Direktur Perumda Air Minum Tirta Anoa segera berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum untuk merumuskan langkah teknis sesuai kondisi di lapangan.

Pemkot Kendari juga akan menjalin koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) dan instansi terkait lainnya. Kerja bersama tersebut diharapkan membantu pemerintah menyusun langkah yang lebih terarah dalam menjaga ketersediaan air baku sekaligus meningkatkan jangkauan pelayanan.

Bagi pemerintah kota, antisipasi kemarau menjadi bagian dari pekerjaan yang harus dilakukan sebelum persoalan membesar. Sebab, air bersih merupakan kebutuhan harian yang tidak dapat ditunda hanya karena kondisi cuaca berubah.

Tantangannya kini adalah memastikan evaluasi di intake Anggoeya berlanjut menjadi langkah nyata. Pemantauan sumber air perlu diikuti perencanaan teknis dan koordinasi antarlembaga agar upaya menjaga pasokan tidak berhenti pada kunjungan lapangan.

Pemkot Kendari berharap langkah antisipasi tersebut dapat meminimalkan dampak kondisi kering terhadap pelayanan air bersih. Di saat yang sama, pemerintah perlu menjawab kebutuhan pelanggan yang terus berkembang.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan sekadar sumber air yang masih tersedia saat ditinjau. Yang lebih penting adalah seberapa siap sistem pelayanan menjaga air tetap sampai kepada masyarakat ketika musim kering benar-benar datang*