KENDARI, Kongkritpost.com- Kekayaan laut Sulawesi Tenggara tak hanya menjadi modal bagi ekonomi lokal. Potensi itu kini diperkenalkan ke forum internasional melalui pemaparan Kepala Dinas Pariwisata Sultra, Ridwan Badallah, di Fuzhou, Provinsi Fujian, China, Sabtu (17/10/2026).
Mewakili Gubernur Sultra, Ridwan Badallah tampil sebagai pembicara dalam forum Marine Biomedicine and Blue Economic Development, bagian dari The World Maritime Equipment Conference 2026. Kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Fujian tersebut dihadiri perwakilan dari sekitar 80 negara.

Dalam forum itu, Ridwan memaparkan peluang pengembangan ekonomi biru atau blue economy, termasuk pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan dan pengembangan biomedis kelautan. Sultra dinilai memiliki beragam sumber daya yang dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kerja sama dengan mitra luar negeri.
Potensi tersebut tersebar di 17 kabupaten dan kota. Untuk memudahkan pemetaan, wilayah maritim Sultra dibagi menjadi empat kawasan, yakni Kolaka–Kolaka Timur–Bombana; Konawe dan wilayah sekitarnya; kawasan Muna dan Buton bagian utara; serta wilayah Wakatobi, Buton, Buton Selatan dan Baubau.
Pemetaan itu mencakup berbagai sumber daya, mulai dari garis pantai, wilayah pengelolaan laut, mangrove, padang lamun, terumbu karang, sungai, danau hingga sektor pertanian, perkebunan dan perikanan. Kesiapan pelabuhan perikanan beserta infrastruktur pendukung juga menjadi bagian dari potensi yang diperkenalkan.
Salah satu kekuatan yang disorot adalah kekayaan terumbu karang di Kepulauan Wakatobi. Selain menjadi bagian penting ekosistem laut, sumber daya kelautan seperti spons laut, mangrove dan biota lainnya juga memiliki peluang untuk dikaji lebih lanjut dalam pengembangan biomedis kelautan.
Di sektor perikanan tangkap, data sementara Dinas Kelautan dan Perikanan Sultra tahun 2025 mencatat produksi tuna mencapai 16.021 ton. Sementara itu, cakalang tercatat 19.753 ton dan tongkol sebanyak 16.489 ton.
Ketiga komoditas tersebut telah memasuki pasar ekspor, antara lain Jepang, Belanda, Singapura, Australia, Thailand dan Amerika Serikat. Jangkauan pasar ini menjadi salah satu modal untuk mendorong pengembangan industri perikanan yang memiliki nilai tambah lebih besar.
Potensi lain datang dari budidaya rumput laut. Produksi komoditas ini di Sultra tercatat mencapai 212.992 ton, membuka peluang pengembangan usaha mulai dari budidaya, pengolahan hingga pemasaran produk.
Dalam paparannya, Ridwan turut menyampaikan data Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 713 dan 714. Jumlah tangkapan yang diperbolehkan di WPPNRI 713 mencapai 697.730 ton per tahun, sedangkan di WPPNRI 714 sebesar 731.486 ton per tahun.
Besarnya angka tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan perikanan berdasarkan ketentuan dan prinsip keberlanjutan. Pemanfaatan sumber daya laut perlu diimbangi dengan perlindungan ekosistem agar potensi ekonomi dapat terus dinikmati dalam jangka panjang.
Melalui forum di China itu, Pemerintah Provinsi Sultra membuka peluang kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Fujian dan negara peserta lainnya, termasuk Singapura, Polandia, Maroko, Maladewa, Pakistan dan Sri Lanka.
Kerja sama yang dijajaki mencakup pengembangan ekonomi biru, perikanan, budidaya rumput laut serta inovasi di bidang kelautan. Peluang tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi program konkret yang mendukung investasi, penguatan industri pengolahan dan perluasan pasar produk unggulan Sultra.
Bagi daerah yang memiliki wilayah pesisir dan kepulauan luas, tantangannya bukan semata-mata memperkenalkan kekayaan alam ke dunia. Hal yang tak kalah penting adalah memastikan potensi tersebut mampu membuka kesempatan usaha, memperkuat ekonomi masyarakat pesisir dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian Sulawesi Tenggara*














