KENDARI, Kongkritpost.com– Di pinggiran Kali Kadia yang sunyi, pada awal Agustus yang terik, sekelompok seniman, pelajar, komunitas lokal, dan relawan dari berbagai latar belakang berkumpul dalam sebuah peristiwa budaya yang tidak sekadar memamerkan seni, melainkan mengetuk kesadaran kolektif akan akar identitas Kendari. Bertajuk “Sagu, Natura Kultural: Alam dan Budaya dalam Ungkapan Perupa”, pameran seni instalasi ini berlangsung dari 1 hingga 17 Agustus 2025, dan menjelma menjadi ruang kontemplatif antara warisan leluhur dan tantangan kekinian.

Pameran ini digagas oleh IDEA Project, sebuah inisiatif kolaboratif yang selama ini konsisten menggerakkan kesadaran ekologi dan budaya melalui pendekatan seni. Kali ini, mereka memilih sagu sebagai medium ekspresi. Namun bukan sagu dalam bentuk makanan siap santap, melainkan sagu sebagai simbol kultural—representasi daya tahan, kebijaksanaan alam, serta relasi manusia dengan tanah airnya.

Melalui tangan-tangan para perupa, alat-alat tradisional pengolahan sagu—mulai dari parut, belanga, hingga alat peras—disusun dalam format instalasi terbuka yang memadukan fungsi dan estetika. Tidak ada galeri berpintu kaca. Yang ada hanya bentangan tanah, udara lembab khas pesisir, dan aliran sungai yang menyatu dengan karya seni. Di sela karya instalasi, terdengar irama musik gambus yang mengalun pelan, serta visual karya pelajar yang menampilkan interpretasi personal mereka terhadap nilai-nilai lokal.

Dalam pembukaan acara, Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Kendari, Satriyawan, hadir mewakili Wali Kota. Ia menegaskan komitmen Pemerintah Kota dalam mendukung inisiatif yang mengangkat kembali kekayaan budaya lokal seperti sagu. “Sagu bukan hanya makanan. Ia adalah bagian dari narasi panjang masyarakat Kendari. Ia tumbuh di rawa, bertahan di tengah perubahan, dan terus memberi kehidupan. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat kesadaran akan nilai-nilai lokal,” ujar Satriyawan di hadapan peserta yang hadir Senin (4/8/2025)

Sikap pemerintah yang mendukung kegiatan semacam ini menjadi angin segar di tengah arus globalisasi yang kerap membuat generasi muda tercerabut dari akar tradisi. Apalagi, pameran ini juga memberi ruang bagi pelajar untuk mengekspresikan kreativitas mereka dalam bingkai lokalitas—sebuah pendekatan yang tidak sekadar estetis, tetapi edukatif.

Lebih dari sekadar acara seni, “Sagu, Natura Kultural” menghadirkan sebuah narasi penting: bahwa Kendari tidak kekurangan akar, tidak kehilangan bahasa, dan tidak pernah kehabisan alasan untuk menyatakan siapa dirinya. Pameran ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan—bagaimana identitas bisa dijaga, diwariskan, dan bahkan dipertajam lewat ekspresi kekinian.

Dengan rentang waktu pameran yang cukup panjang, yakni hingga 17 Agustus, momentum ini juga beririsan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Maka tidak berlebihan bila publik menafsirkan kegiatan ini sebagai bentuk merdeka dalam ekspresi, merdeka dalam berpikir, dan merdeka dalam menghidupkan budaya.

Sejumlah komunitas budaya lokal pun tampak aktif hadir selama pameran berlangsung. Mereka berdiskusi, menyusun agenda, bahkan menjadikan ruang ini sebagai laboratorium sosial untuk merancang kegiatan serupa di titik-titik lain kota Kendari. Kali Kadia yang sebelumnya hanya dikenal sebagai aliran air, kini menjadi aliran gagasan.

Apa yang dilakukan oleh IDEA Project bersama para perupa dan relawan di Kendari ini mungkin tidak akan masuk dalam rekap besar ekonomi kreatif nasional. Tapi di kota ini, di tepi sungai ini, mereka sedang menanam ulang apa yang selama ini nyaris terlupakan: akar budaya yang memberi rasa, daya, dan arah. Dan semua itu dimulai dari sagu—yang tidak hanya tumbuh di tanah, tetapi juga dalam ingatan kolektif masyarakat( Red)