KENDARI, Kongkritpost.com- Suasana Perkemahan Sabtu Minggu di Pantai Nambo tak lagi sekadar diisi kegiatan baris-berbaris dan kedisiplinan fisik. Di sela agenda lapangan, peserta justru dibekali “amunisi baru”: literasi digital.

Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Kendari, Pemerintah Kota Kendari masuk ke ruang pembinaan generasi muda dengan pendekatan yang lebih relevan—menghadapi tantangan dunia maya yang kian kompleks.

Kegiatan yang digagas Kodim 1417/Kendari ini menjadi menarik karena memadukan dua dunia: kedisiplinan militer dan kecakapan digital. Sebuah kombinasi yang jarang disentuh secara serius.

Sekretaris Diskominfo Kendari, Wawan Astanto, tidak hanya memberikan materi normatif. Ia langsung menyorot akar persoalan: kebiasaan generasi muda yang cepat membagikan informasi tanpa verifikasi.

“Bijak bermedia sosial itu sederhana, gunakan akal sehat sebelum klik ‘share’,” tegasnya Minggu (12/4/2026)

Empat pilar yang disampaikan bukan sekadar teori, tetapi cerminan masalah nyata di lapangan.

Pertama, soal “saring sebelum sharing”. Di era banjir informasi, hoaks menyebar bukan karena canggihnya teknologi, tetapi karena lemahnya kontrol pengguna. Di titik ini, peserta diajak memahami bahwa satu klik bisa berdampak luas.

Kedua, etika digital. Ruang maya sering dianggap bebas tanpa batas, padahal jejak digital bersifat permanen. Kesalahan kecil dalam komentar bisa berujung panjang, bahkan berdampak hukum.

Ketiga, keamanan data pribadi. Ini yang kerap diabaikan. Banyak pengguna tanpa sadar membagikan informasi sensitif—mulai dari lokasi hingga identitas—yang bisa dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.

Keempat, kesehatan mental. Penggunaan gawai berlebihan tidak hanya mengganggu fokus belajar, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis. Diskominfo mencoba menanamkan kesadaran bahwa dunia digital perlu dikendalikan, bukan sebaliknya.

Yang menarik, pendekatan ini tidak menggurui. Materi dikemas kontekstual, dekat dengan keseharian peserta KKRI. Mereka tidak hanya diajak memahami risiko, tetapi juga didorong menjadi agen perubahan di lingkungannya.

Langkah ini menunjukkan pergeseran penting. Pendidikan karakter tidak lagi cukup dengan disiplin fisik dan moral konvensional. Dunia digital kini menjadi medan baru yang harus dikuasai.

Di tengah derasnya arus informasi, generasi muda dituntut tidak hanya cerdas, tetapi juga bijak. Dan dari sebuah perkemahan di pesisir Kendari, pesan itu mulai ditanamkan—bahwa perang terbesar hari ini bukan di medan fisik, tetapi di ruang digital yang tak terlihat*