KENDARI, Kongkritpost.com- Aula Merah Putih Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Tenggara, Jumat (22/5/2026), bukan sekadar tempat penyerahan bantuan pendidikan. Di ruangan itu, Pemerintah Provinsi Sultra sedang mengirim pesan besar: masa depan daerah tidak lagi hanya bertumpu pada tambang dan sumber daya alam, tetapi pada kualitas manusianya.
Sebanyak 150 mahasiswa dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara resmi menerima bantuan dana pendidikan melalui program Beasiswa Sultra Cerdas 2026. Program ini merupakan kolaborasi Pemerintah Provinsi Sultra bersama Yayasan ASR Asmar Abadi.
Di tengah tekanan fiskal daerah dan ketergantungan pada transfer pusat, Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka, justru memilih memperkuat investasi jangka panjang: pendidikan.
Bagi Andi Sumangerukka, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan cadangan nikel, hasil laut, atau kekayaan alam lainnya. Daerah, kata dia, hanya bisa bergerak cepat jika ditopang sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan berdaya saing.
“Pendidikan harus menjadi prioritas bersama. Kita ingin memastikan putra-putri Sultra memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan tinggi,” ujar gubernur.
Kalimat itu terasa sederhana. Namun di baliknya tersimpan arah besar pembangunan Sultra: membangun “modal manusia” atau human capital sebagai fondasi pertumbuhan daerah.
Program Beasiswa Sultra Cerdas 2026 sendiri diikuti 3.282 pendaftar dari seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara. Dari jumlah itu, hanya 150 mahasiswa yang dinyatakan lolos setelah melalui proses seleksi ketat.
Mereka terdiri dari 50 penerima kategori S1 Umum, 50 kategori S1 Prestasi, 30 mahasiswa S2, dan 20 mahasiswa S3.
Seleksi dilakukan bukan hanya melihat nilai akademik. Tim penilai juga mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga, relevansi jurusan dengan kebutuhan pembangunan daerah, hingga pemerataan keterwakilan wilayah.
Ketua Yayasan ASR Asmar Abadi, Arinta Andi Sumangerukka, mengatakan program ini dirancang agar bantuan pendidikan benar-benar menyentuh mahasiswa yang membutuhkan.
“Kami ingin memastikan keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi mahasiswa Sultra untuk melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita,” katanya.
Secara politik pembangunan, langkah ini juga dibaca sebagai upaya membangun ekosistem pendidikan jangka panjang di Sultra. Sebab, daerah yang kaya sumber daya tetapi lemah kualitas SDM sering kali hanya menjadi penonton di rumah sendiri.
Karena itu, Andi Sumangerukka menilai kolaborasi antara pemerintah, lembaga sosial, dunia usaha, dan institusi pendidikan menjadi kebutuhan penting agar akses pendidikan tinggi semakin terbuka.
Ia berharap program seperti Sultra Cerdas tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan melahirkan generasi baru Sulawesi Tenggara yang mampu menjadi motor perubahan di bidang masing-masing.
“Semoga semakin banyak anak-anak Sultra yang bisa melanjutkan pendidikan sampai sarjana, magister, bahkan doktor,” ujarnya.
Dalam penyerahan simbolis itu, gubernur didampingi Ketua Yayasan ASR Asmar Abadi menyerahkan bantuan kepada empat perwakilan mahasiswa penerima.
Mereka di antaranya Dewi Ayu asal Kabupaten Buton Tengah dari Jurusan Oseanografi Universitas Halu Oleo kategori S1 Umum, Rizki Azizah Apriliyan dari Kota Kendari Jurusan Farmasi Universitas Halu Oleo kategori S1 Prestasi, Ayu Rezkistari Umirtun dari Konawe Selatan Jurusan Manajemen Rumah Sakit Universitas Brawijaya kategori S2, serta La Rangki dari Kota Kendari Jurusan Ilmu Kedokteran Universitas Hasanuddin kategori S3.
Di tengah tantangan ekonomi dan kompetisi global yang makin keras, program ini menjadi semacam “jalur naik kelas” bagi generasi muda Sultra. Sebab dalam banyak teori pembangunan modern, daerah maju bukan lagi ditentukan apa yang ada di dalam tanahnya, tetapi apa yang ada di kepala manusianya*







