MUNA, Kongkritpost.com- Di Muna, pembangunan tidak lagi sekadar headline. Ia sudah jadi pemandangan. Nyata. Bisa disentuh. Proyek Pengamanan Pantai Muna di kawasan Pantai Raha dan Bendungan Laiba kini resmi tuntas. Dua proyek, dua fungsi, satu tujuan besar: membuat Muna lebih aman dan lebih siap menghadapi masa depan. IMG 20260211 WA0076

IMG 20260211 WA0075

Pantai Raha—atau yang kini populer disebut Pantai Muna—selama ini berada di garis rawan. Abrasi, gelombang ekstrem, dan banjir rob kerap datang tanpa permisi. Kini ceritanya berubah. Pengaman pantai sepanjang 1,6 kilometer berdiri kokoh, membentengi jantung Kota Raha.

Proyek bernilai Rp28 miliar yang bersumber dari APBN ini digarap PT Pinar Jaya Perkasa di bawah komando Kementerian Pekerjaan Umum melalui BWS Sulawesi IV Kendari. Fungsi utamanya jelas: tameng pesisir. Tapi efeknya lebih dari itu. Wajah pantai ikut naik kelas.

IMG 20260211 WA0072 3

Tokoh Pemuda Muna, Tayeb, menyebut proyek Pantai Muna sebagai game changer bagi Kota Raha. Bukan hanya melindungi jalan utama, Masjid Agung Raha, dan pemukiman warga, tetapi juga menghidupkan ruang publik.

“Sekarang pantai bukan cuma tempat lewat. Sudah jadi tempat nongkrong, olahraga, dan rekreasi warga. Ini bukti proyek pemerintah bisa langsung dirasakan,” ujarnya, Rabu  (11/2/2026).

Tak kalah penting, proyek ini mendapat atensi langsung dari Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae, bersama Bupati Muna, Bachrun Labuta. Keduanya turun ke lapangan, memastikan proyek berjalan sesuai spek.

Menurut Tayeb, kehadiran Ridwan Bae menjadi kunci masuknya proyek Kementerian PUPR ke Bumi Sowite.

Sementara pesisir dikunci, sektor pertanian juga dikuatkan. Bendungan Laiba di Kecamatan Parigi kini resmi tuntas. Proyek ini bukan sekadar bendung, tapi urat nadi baru bagi sawah-sawah Muna.

Rehabilitasi dilakukan di sejumlah titik strategis, termasuk Kolasa dan Labulubulu. Targetnya satu: air lancar, sawah subur, panen stabil. Bendungan Laiba dirancang untuk meningkatkan produktivitas pertanian, mengendalikan banjir, sekaligus menyediakan air baku.

“Bendungan Laiba ini menopang ketahanan pangan daerah dan inline dengan program nasional Presiden RI Prabowo Subianto,” kata Tayeb.

Ia menambahkan, pada tahun anggaran 2026, proyek ini akan dilanjutkan dengan pembangunan jaringan irigasi agar manfaatnya makin maksimal dan benar-benar mengairi persawahan.

Terpisah, Humas BWS Sulawesi IV Kendari, Rahmat, menegaskan bahwa dua proyek tersebut—Pantai Muna dan Bendungan Laiba—telah berjalan sesuai aturan. Isu miring soal solar subsidi disebutnya tidak berdasar dan tanpa data valid.

Fakta di lapangan berbicara. Pantai Raha kini ramai hingga malam hari. Warga datang untuk jogging, bersantai, atau sekadar menikmati angin laut. Di sisi lain, petani mulai menaruh harapan pada Bendungan Laiba yang siap mengalirkan air ke sawah.

Dua proyek ini mengirim satu pesan keras: APBN bukan cuma angka di atas kertas. Di Muna, ia berubah menjadi perlindungan pesisir, air irigasi, dan harapan baru. Muna pelan-pelan, tapi pasti, sedang naik level( Man)