KENDARI, Kongkritpost.com-Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., hadir sebagai keynote speaker pada Seminar Al-Qur’an yang digelar dalam rangkaian STQH Nasional ke-XXVIII, Jumat (17/10/2025) di Hotel Claro, Kendari. Tema yang diangkat, “Syiar Al-Qur’an dan Hadis: Merawat Kerukunan, Melestarikan Lingkungan”, menjadi fokus diskusi yang mengaitkan nilai-nilai ajaran Islam dengan tantangan kehidupan modern.

FB IMG 1760711695521

Dalam sambutannya, Wamen Dikdasmen menekankan fleksibilitas dan relevansi Al-Qur’an dan Sunnah. Menurutnya, kedua sumber ajaran Islam ini tidak hanya menjadi panduan spiritual, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan manusia dalam konteks sosial dan lingkungan saat ini.

“Al-Qur’an dan hadis menjadi pedoman hidup yang operasional ketika kita mampu menerjemahkannya ke dalam aktivitas sehari-hari, menjaga kerukunan, sekaligus melestarikan alam,” ujar Wamen.

FB IMG 1760711721359

Seminar ini turut dibuka oleh Wakil Gubernur Sultra, Ir. Hugua, M.Ling., mewakili Gubernur Sultra Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka. Wagub menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Sultra menjadi tuan rumah STQH Nasional, sekaligus menekankan pentingnya mendalami makna Al-Qur’an melalui tadabbur qur’ani yang diterapkan dalam kehidupan sosial, budaya, dan lingkungan.

“Melalui seminar ini, kami berharap lahir gagasan-gagasan konstruktif untuk membumikan Al-Qur’an sebagai inspirasi pembangunan manusia berakhlak mulia, berilmu, dan berdaya saing,” tambah Wagub.

FB IMG 1760711711407

Acara ini diikuti lebih dari 500 peserta, mulai dari tokoh agama, akademisi, mahasiswa, santri pondok pesantren, hingga jajaran Forkopimda Sultra. Kehadiran Prof. Dr. K.H. Said Agil Husen Al Munawwar, Lc., M.A., mantan Menteri Agama RI, dan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI menegaskan bobot nasional kegiatan ini.

FB IMG 1760711700733

Seminar ini sekaligus menjadi ruang strategis untuk memperkuat literasi Al-Qur’an dan hadis di masyarakat, menegaskan bahwa syiar keagamaan tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga kontekstual, relevan, dan mampu menginspirasi pembangunan karakter serta menjaga kelestarian lingkungan( Red)