KENDARI, Kongkritpost.com- Kendari mulai bergerak lebih cepat dari biasanya. Sejak Selasa (2/6/2026), peserta Rapat Kerja (Raker) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Komisariat Wilayah (Komwil) VI mulai berdatangan ke ibu kota Sulawesi Tenggara itu. Kedatangan ini menandai dimulainya rangkaian agenda besar yang akan berlangsung hingga 4 Juni 2026.
Tamu pertama tercatat berasal dari Pemerintah Kota Palu, yang diwakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK). Mereka tiba melalui penerbangan Batik Air dan langsung disambut panitia serta jajaran Pemerintah Kota Kendari di Bandara Halu Oleo.
Tak lama berselang, Wakil Wali Kota Tomohon, SENDY GLADYS ADOLFINA RUMAJAR, S.E., M.I.Kom., juga mendarat di Kendari untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Raker APEKSI Komwil VI. Kehadiran para delegasi ini membuat suasana bandara berubah menjadi titik awal konsolidasi antarkota di kawasan timur Indonesia.
Raker APEKSI Komwil VI tahun ini tidak hanya sekadar forum formal. Sebelum masuk ruang rapat, para peserta lebih dulu akan “dipanaskan” dengan agenda city tour Kota Kendari. Dalam skema kegiatan ini, city tour bukan sekadar jalan-jalan, tetapi bagian dari diplomasi kota—cara memperkenalkan wajah Kendari di luar ruang rapat.
Salah satu titik yang paling disorot dalam agenda tersebut adalah kunjungan ke bank sampah. Lokasi ini akan menjadi etalase pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang menjadi tema besar Raker APEKSI tahun ini. Di titik ini, isu lingkungan tidak lagi sekadar wacana, tetapi diperlihatkan dalam praktik sehari-hari.
Selain bank sampah, peserta juga akan dibawa ke sejumlah destinasi wisata unggulan Kendari. Pola ini sekaligus memperlihatkan pendekatan baru dalam forum pemerintah kota: diskusi kebijakan dipadukan dengan pengalaman lapangan.
Raker APEKSI Komwil VI 2026 sendiri mengangkat isu utama penanganan dan pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat. Forum ini diikuti oleh perwakilan pemerintah kota dari wilayah Sulawesi, Maluku, hingga Papua, yang selama ini menghadapi tantangan serupa dalam pengelolaan perkotaan.
Di balik agenda resmi, pertemuan ini juga menjadi ruang membaca arah baru pembangunan kota di Indonesia Timur. Isu sampah, yang dulu dianggap persoalan teknis, kini naik kelas menjadi isu strategis yang menyentuh tata kelola, perilaku masyarakat, hingga desain kebijakan publik.
Kendari pun tidak hanya menjadi tuan rumah acara, tetapi juga panggung kecil untuk menunjukkan bagaimana sebuah kota mencoba mengelola tantangan klasik dengan pendekatan kolaboratif.
Dari bandara, bank sampah, hingga ruang rapat, semuanya menjadi bagian dari satu narasi besar: bagaimana kota-kota di Indonesia Timur mulai saling belajar, saling meniru, dan saling mendorong perubahan dari hal yang paling sederhana—sampah*






