KENDARI, Kongkritpost.com-Angka 7,78 persen membawa kabar positif bagi perekonomian Kota Kendari.
Pada Triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi ibu kota Sulawesi Tenggara itu tercatat mencapai 7,78 persen. Angka tersebut menempatkan Kendari dalam tiga besar daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia berdasarkan data yang dipaparkan Kementerian Dalam Negeri dalam Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Bagi Pemerintah Kota Kendari, capaian tersebut bukan sekadar angka statistik.
Ada pekerjaan yang lebih besar setelahnya: bagaimana pertumbuhan ekonomi itu tetap terjaga dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Wali Kota Kendari Siska Karina Imran mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama, bukan hanya pemerintah.
Menurutnya, pemerintah, masyarakat, distributor hingga pelaku usaha memiliki peran dalam menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak.
“Capaian 7,78 persen ini bukan hanya kerja pemerintah, melainkan hasil kerja keras seluruh elemen masyarakat, distributor, dan pelaku usaha yang terus menjaga sinergi,” kata Siska saat membuka Rapat Koordinasi Pengendalian Harga Pangan Tahun 2026 di Kendari.
Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak boleh membuat pemerintah terlena.
Justru di tengah laju ekonomi tersebut, stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi perhatian penting.
Siska menegaskan koordinasi pengendalian pangan harus menghasilkan langkah konkret. Stok harus tersedia, distribusi tidak boleh tersendat, harga perlu dikendalikan dan masyarakat harus tetap terlindungi.
“Harapan kita, koordinasi hari ini menghasilkan langkah konkret: stok aman, distribusi lancar, harga terkendali, dan masyarakat terlindungi,” tegasnya Kamis (10/9/2026)
Data inflasi juga menjadi bagian penting dari gambaran ekonomi Kendari.
Pada Agustus 2026, inflasi Kota Kendari secara year-on-year tercatat 3,66 persen. Sementara inflasi secara month-to-month berada pada angka minus 0,37 persen.
Angka tersebut menunjukkan tekanan harga bulanan masih terkendali. Tetapi pemerintah tetap diminta waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan komoditas pangan.
Sebab pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan kehilangan makna jika daya beli masyarakat justru tertekan akibat harga kebutuhan pokok melonjak.
Karena itu, Pemkot Kendari mulai mendorong agar kebutuhan pangan daerah sebanyak mungkin memberikan efek ekonomi kepada masyarakat lokal.
Salah satu perhatian pemerintah adalah bagaimana tingginya kebutuhan pangan tidak seluruhnya dipenuhi dari luar daerah.
Telur, misalnya.
Kebutuhannya di Kota Kendari mencapai lebih dari 100.000 butir setiap hari. Sebagian kebutuhan tersebut bahkan digunakan untuk memasok 39 Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG.
Kebutuhan ayam potong juga mencapai ratusan ekor per hari.
Bagi Pemkot Kendari, angka tersebut bukan hanya menunjukkan besarnya kebutuhan konsumsi. Di baliknya terdapat peluang ekonomi yang cukup besar bagi peternak, UMKM, distributor dan pelaku usaha lokal.
“Semua kegiatan dan kebutuhan pangan di Kota Kendari harus memberikan dampak ekonomi bagi warga Kendari sendiri. Jangan sampai kebutuhan kita tinggi, tetapi justru disuplai dari luar sementara pengusaha dan barang lokal kita tidak laku,” ujar Siska.
Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi diharapkan tidak berhenti pada angka 7,78 persen.
Harus ada efek berantai.
Ketika permintaan pangan meningkat, petani dan peternak lokal ikut bergerak. Distributor lokal mendapatkan ruang usaha. UMKM tumbuh. Tenaga kerja terserap. Uang berputar lebih lama di dalam daerah.
Inilah yang ingin diperkuat pemerintah melalui koordinasi lintas sektor.
Rapat tersebut turut dihadiri jajaran Forkopimda, Perum Bulog Sultra, instansi teknis dan pelaku usaha pangan. Forum itu menjadi ruang untuk menyusun strategi bersama melalui Satgas Pangan, termasuk mengantisipasi gangguan distribusi dan potensi penimbunan.
Dari sisi ketersediaan beras, Bulog memastikan kondisi stok di Kota Kendari berada dalam keadaan aman. Bahkan, persediaan disebut mampu memenuhi kebutuhan hingga sekitar 1,5 tahun ke depan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Kendari Abdul Rauf mengatakan ketahanan pangan dan stabilitas harga merupakan fondasi penting bagi kestabilan sosial sekaligus keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.
Pertumbuhan 7,78 persen akhirnya menjadi tantangan baru bagi Kendari.
Bukan lagi sekadar bagaimana membuat ekonomi tumbuh.
Tetapi bagaimana memastikan pertumbuhan itu tidak hanya terlihat dalam laporan statistik, melainkan terasa di pasar, di usaha kecil, di rumah tangga dan di kantong masyarakat.
Kendari kini memiliki modal berupa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan ketersediaan pangan yang relatif aman.
Tinggal bagaimana modal tersebut dijaga agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya menjadi angka yang membanggakan, tetapi benar-benar berubah menjadi kesejahteraan bagi masyarakat Kota Kendari*














