KONSEL, Kongkritpost.com- Desa Bangun Jaya kembali menjadi sorotan publik. Namun kali ini bukan karena konflik besar, melainkan karena pertempuran narasi antara pro dan kontra terhadap kehadiran PT Tambang Indonesia Sejahtera (TIS). Di satu sisi, ada LSM dan kelompok kecil warga yang menolak keberadaan perusahaan. Di sisi lain, mayoritas warga Desa Bangun Jaya justru menegaskan dukungan penuh terhadap investasi yang dinilai menggerakkan ekonomi lokal.

Pantauan di lapangan, massa penolak PT TIS hanya sekitar 20-an orang, sebagian besar diduga diprovokasi oleh LSM yang datang dari luar desa. Mereka meneriakkan slogan penolakan, tapi jumlah mereka tampak kalah jauh dibanding warga pro yang memadati lokasi untuk menunjukkan dukungan.

“Saya datang ke sini untuk menunjukkan bahwa PT TIS membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Jangan sampai ada pihak luar yang memprovokasi kami,” kata La Ode Haslin, salah satu warga pro PT TIS, Senin (16/3/2026).

Keberadaan PT TIS memang sempat memicu perdebatan. Sebagian kecil warga mengkhawatirkan dampak lingkungan atau ketergantungan ekonomi. Namun mayoritas menilai perusahaan justru mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, membuka lapangan kerja, dan membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Sejak PT TIS hadir, ekonomi warga meningkat. Banyak yang dapat pekerjaan, anak-anak sekolah terbantu, kebutuhan pokok lebih mudah terpenuhi. Ini bukan sekadar investasi, tapi kehidupan yang bergerak,” tambah La Ode Haslin dengan nada tegas.

Dalam aksi dukungan tersebut, warga menolak kehadiran LSM atau aliansi luar desa yang dianggap merugikan kepentingan masyarakat setempat. Mereka menekankan pentingnya menilai fakta di lapangan, bukan terprovokasi isu yang belum tentu akurat.

Dampak Positif PT TIS bagi Desa

Menurut warga, kontribusi PT TIS tak hanya dalam bentuk pekerjaan. Perusahaan juga memperkuat perekonomian mikro, membantu UMKM lokal dengan suplai bahan baku, serta memberi peluang kolaborasi dalam kegiatan sosial.

“Kalau ada LSM yang bilang kami dirugikan, itu tidak benar. Sebaliknya, perusahaan ini membuat masyarakat lebih mandiri dan berdaya,” ujar salah satu warga yang ikut aksi dukungan.

Selain itu, masyarakat berharap situasi tetap kondusif, tanpa konflik berkepanjangan antara pro dan kontra. Mereka ingin semua pihak melihat secara objektif dampak nyata PT TIS, bukan terjebak isu provokatif dari luar.

Solidaritas Warga Bangun Jaya

Aksi dukungan ini juga menandai solidaritas masyarakat yang tinggi. Dari generasi muda hingga orang tua, warga berkumpul untuk menunjukkan bahwa mereka memahami kepentingan sendiri dan menolak provokasi.

Menurut pengamatan, suasana tetap damai meski ada kelompok kecil yang mencoba memancing keributan. Ini menunjukkan bahwa warga lebih memilih dialog dan aksi positif daripada konflik.

Kesimpulan

Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi desa lain: investasi yang tepat bisa menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat, tapi harus ada komunikasi dan transparansi agar tidak disalahpahami. Desa Bangun Jaya menunjukkan bahwa masyarakat bisa bersatu menolak provokasi, sambil tetap mendukung pembangunan ekonomi.

Dengan dukungan mayoritas, PT TIS kini dilihat sebagai partner strategis desa, bukan sekadar perusahaan tambang. Harapannya, keberadaan perusahaan bisa mempercepat kesejahteraan warga, menciptakan lapangan kerja, dan menjadi contoh harmonisasi antara masyarakat lokal dan investor*