KENDARI, Kongkritpost.com- Gerak cepat ditunjukkan Gubernur Andi Sumangerukka dalam mendorong kebangkitan sektor pertanian di Sulawesi Tenggara. Di tengah keterbatasan fiskal daerah, pendekatan yang dipilih bukan menunggu—melainkan menjemput peluang ke pusat.

Koordinasi intens dengan Kementerian Pertanian Republik Indonesia membuahkan hasil konkret. Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dalam jumlah besar berhasil diamankan dan kini mulai dirasakan langsung oleh petani.

Bukan sekadar simbolis. Bantuan yang masuk mencakup berbagai kebutuhan inti: traktor roda dua dan roda empat untuk olah lahan, combine harvester untuk percepatan panen, pompa air sebagai solusi darurat kekeringan, hingga drone untuk mendukung praktik pertanian modern.

Distribusi bantuan terus dipacu hingga 2026. Wilayah seperti Konawe dan Kolaka Timur menjadi prioritas, terutama daerah yang menghadapi tekanan cuaca dan keterbatasan sarana produksi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra, Muhammad Taufik, memastikan penyaluran dilakukan tepat sasaran. Kelompok tani yang membutuhkan langsung menerima bantuan, termasuk pompa air bagi desa-desa yang terdampak kekeringan ekstrem Ujarnya Senin (6/4/2026)

Di saat yang sama, tambahan dukungan kembali mengalir. Sebanyak 40 unit traktor roda dua masuk pada awal triwulan kedua 2026. Tak berhenti di situ, program cetak sawah juga diperluas setelah mendapat dukungan dari Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

Total luas cetak sawah di Sultra kini menembus 24.050 hektare—angka yang menandai keseriusan pemerintah daerah dalam membangun fondasi pangan jangka panjang.

Menariknya, pola distribusi alsintan tidak bersifat kepemilikan pribadi. Pemerintah menerapkan sistem pinjam pakai yang memungkinkan alat digunakan bergilir antar kelompok tani.

“Setelah selesai di satu lokasi, alsintan harus berpindah ke kelompok lain. Ini agar manfaatnya merata dan tidak berhenti di satu titik,” jelas Taufik.

Kebijakan ini sekaligus menutup celah komersialisasi bantuan. Petani tidak dibebani biaya, sementara pemanfaatan alat tetap optimal.

Langkah agresif ini memperlihatkan arah baru pembangunan pertanian Sultra—lebih adaptif, berbasis teknologi, dan berorientasi solusi lapangan.

Pesan Gubernur tegas: pertanian tidak cukup dikelola secara konvensional.

Setelah masuknya alsintan modern dan perluasan lahan, Sultra kini tidak hanya mengejar produksi, tetapi juga menyiapkan lompatan menuju sistem pertanian yang lebih efisien dan berdaya saing*