KONUT, Kongkritpost.com- Setelah sempat tertutup akibat sengketa pembayaran material, jembatan darurat Bailey di Desa Sambadete kembali terbuka untuk lalu lintas, mengembalikan denyut kehidupan masyarakat yang bergantung pada akses vital tersebut.
Persoalan ini bermula dari konflik pembayaran antara kontraktor pelaksana, CV Ulin Pratama, dan pihak ketiga penyedia material. Penutupan jembatan sempat menimbulkan keresahan, mengingat jalur ini menjadi urat nadi pergerakan orang dan barang di kawasan Konawe Utara.
Langkah cepat Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi kunci pembukaan kembali akses ini. Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Sultra, Fahri Yamsul, memastikan, pihaknya telah menindaklanjuti persoalan dan menjamin proses pembayaran segera dilakukan sesuai prosedur. “Pagi ini jembatan sudah bisa dilalui masyarakat,” ujarnya, Selasa (12/8/2025)
Kepala Seksi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan, Nurdin, yang juga Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan, menegaskan bahwa penunjukan kontraktor dilakukan sesuai Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2021 tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah. Dalam kondisi darurat, penyedia dapat langsung bekerja meskipun harga kewajaran belum ditetapkan, asalkan kualifikasi terpenuhi.
Meski estimasi awal proyek mencapai Rp 3,2 miliar, pembayaran tidak dilakukan serampangan. Pemerintah menunggu audit Inspektorat Provinsi untuk memastikan harga yang wajar. “Ini adalah mekanisme kontrol penting agar anggaran digunakan tepat dan akuntabel,” kata Nurdin. Ia juga menegaskan bahwa tanggung jawab pembayaran material sepenuhnya berada di tangan penyedia jasa.
Proyek ini sendiri mencatat kecepatan pengerjaan yang jarang terjadi. Dalam waktu 75 hari, sejak 2 Mei hingga 15 Juli 2025, jembatan sepanjang 51 meter berhasil dirakit menggunakan sistem modular Bailey yang terdiri dari tiga segmen—21 meter, 15 meter, dan 15 meter—dengan lebar 5 meter dan tinggi 2 meter dari permukaan tanah.
Selain konstruksi utama, penanganan darurat juga mencakup pembangunan oprit dan jalan pendekat sepanjang 291 meter, pasangan batu kosong lebih dari 3.146 m³, timbunan pilihan 932 m³, serta bronjong 208 m³ untuk stabilisasi tanah.
Bagi warga Sambadete, kembalinya akses ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal keberlangsungan aktivitas ekonomi, akses pendidikan, dan hubungan sosial yang sempat terputus. Bagi pemerintah, ini menjadi pelajaran penting bahwa percepatan proyek darurat harus berjalan beriringan dengan tertib administrasi dan transparansi keuangan( Red)


Berkomentarlah dengan baik dan bijak menggunakan facebook