KENDARI, Kongkritpost.com- Menjelang ulang tahun ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara, KPID Sultra memilih tidak tinggal diam. Lembaga pengawas penyiaran itu mulai menggerakkan televisi, radio, hingga media komunitas agar ikut menyemarakkan perayaan daerah bertajuk Harmoni Sultra.

Ajakan itu dituangkan melalui Surat Edaran Nomor: B/100.3.4/26/KPID/IV/2026 yang resmi diterbitkan menjelang rangkaian HUT Sultra pada 24 sampai 27 April 2026.

Pesannya sederhana, tetapi penting: momentum ulang tahun provinsi jangan hanya hidup di panggung seremonial. Ia harus terasa sampai ke ruang keluarga, warung kopi, mobil angkutan, hingga pelosok desa melalui siaran yang menjangkau masyarakat.

Ketua KPID Sultra Fadli Sardi meminta seluruh lembaga penyiaran, baik publik, swasta, berlangganan maupun komunitas, mengambil peran aktif dalam menyampaikan informasi pembangunan dan kemajuan daerah.

Menurutnya, media penyiaran bukan sekadar pemutar lagu atau pembaca berita. Lebih dari itu, ia adalah jembatan antara pemerintah dan rakyat.

“Kami berharap seluruh lembaga penyiaran ikut menyukseskan HUT Sultra ke-62 dengan konten kreatif dan edukatif,” ujar Fadli, Selasa (21/4/2026).

Dalam edaran tersebut, KPID menekankan tiga poin utama.

Pertama, masyarakat berhak mengetahui capaian pembangunan Sultra melalui siaran yang informatif.

Kedua, lembaga penyiaran diharapkan memperkuat sinergi demi kemajuan daerah.

Ketiga, penyiaran lokal harus terus hidup dan berkelanjutan agar identitas Sultra tidak tenggelam di tengah arus informasi nasional.

Di tengah derasnya konten digital, televisi dan radio lokal sering dianggap pemain lama. Padahal, ketika bicara soal kedekatan dengan warga, mereka masih punya kekuatan besar.

Radio masih didengar di pasar dan kendaraan. Televisi lokal masih dipercaya untuk kabar daerah. Media komunitas masih menjadi suara masyarakat di level akar rumput.

Karena itu, HUT Sultra kali ini menjadi panggung penting bagi media lokal untuk menunjukkan bahwa mereka tetap relevan.

Tema Harmoni Sultra pun terasa pas. Daerah dengan banyak pulau, bahasa, dan budaya ini memang membutuhkan irama yang sama agar terus maju.

Dan dalam irama itu, televisi dan radio diminta bukan hanya menjadi penonton—tetapi pengeras suara utama*