KENDARI, Kongkritpost.com-Proyek pembangunan dan penataan kawasan tambat labuh yang berlokasi di Kendari Bis, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, kembali menjadi sorotan. Proyek yang diduga menelan anggaran miliaran rupiah dari APBD Kota Kendari tahun 2023 tersebut kini menuai kritik tajam karena kondisi bangunan yang ambruk dan diduga tidak sesuai spesifikasi.
Hasil pantauan di lapangan menunjukkan bahwa terdapat dua titik kerusakan utama. Di pintu pertama, struktur bangunan telah ambruk, sementara di pintu kedua terlihat dalam kondisi miring ke arah sungai Pada Rabu (11/12/2024)
Seorang pekerja yang enggan menyebutkan namanya mengaku bahwa ia baru saja bekerja di proyek tersebut. “Tadi ada orang dari Dinas Perhubungan datang tetapi saya tidak tahu apa yang mereka bahas,” ungkapnya.
Kondisi ini memprihatinkan, mengingat proyek ini baru selesai sekitar satu tahun lalu. Namun, struktur yang seharusnya kokoh sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan parah, bahkan condong ke sungai.
Masyarakat sekitar, seperti yang disampaikan oleh seorang warga bernama Ambo Rape, mengungkapkan bahwa lemahnya tanah di bawah laut menjadi salah satu penyebab kerusakan. “Tanahnya lembek, tidak kuat menopang tiang. Akhirnya, bangunan ambles meski baru selesai dikerjakan,” katanya.
Sementara itu, seorang pekerja proyek lainnya mengaku bahwa hingga saat ini kontraktor belum dibayar oleh Pemerintah Kota Kendari. “Saya hanya disuruh pengawas untuk membongkar bagian yang rusak, tetapi saya tidak tahu siapa kontraktornya,” ujarnya.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas Perhubungan Kota Kendari tidak memberikan penjelasan terkait kerusakan ini
Minimnya respons dari pihak terkait menambah kekecewaan masyarakat terhadap pengelolaan proyek ini. Dugaan bahwa pembangunan dilakukan asal-asalan semakin menguat, mengingat kondisi bangunan yang jauh dari harapan.
Proyek ini menjadi cerminan buruknya manajemen pembangunan infrastruktur jika tidak diawasi dengan baik. Diperlukan investigasi menyeluruh untuk memastikan pihak-pihak yang bertanggung jawab segera menindaklanjuti masalah ini. Pemerintah Kota Kendari diharapkan tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga solusi konkret agar insiden serupa tidak terulang.
Tambat labuh yang seharusnya menjadi fasilitas publik yang bermanfaat kini malah menjadi sorotan negatif. Masyarakat menunggu kejelasan dari pemerintah terkait kelanjutan proyek ini, termasuk memastikan bahwa anggaran yang digunakan benar-benar sesuai peruntukannya( Usman)



