KENDARI, Kongkritpost.com- Auditorium Mokodompit kembali menjadi saksi lahirnya generasi terdidik, ketika 1.902 lulusan Universitas Halu Oleo (UHO) resmi dilepas dalam prosesi wisuda periode April–Juli 2025. Di tengah semarak toga dan haru, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Ir. Hugua, M.Ling., hadir dengan pesan yang jauh melampaui seremoni kelulusan ucapnya Selasa (5/8/2025)

FB IMG 1754374482189

Tidak sekadar menyampaikan selamat, Hugua—yang juga putra sulung dari kampus Bumi Tridharma itu—mengajak para wisudawan menyadari beban moral dari gelar akademik yang kini mereka sandang. “Sertifikat itu pengakuan ilmiah. Tapi ilmu harus dibuktikan manfaatnya: bukan hanya untuk keluarga, tapi untuk kampung, provinsi, dan bangsa ini,” tegasnya.

Pidato Hugua tidak berhenti pada tataran simbolik. Ia mengurai secara gamblang arah pembangunan Sulawesi Tenggara yang berpijak pada empat pilar: pendidikan, kesehatan, agro-maritim, dan infrastruktur. Dalam kerangka ini, para lulusan UHO—disebutnya sebagai “tokoh muda baru Sulawesi Tenggara”—diimbau untuk mengambil peran dalam tiga sektor kunci: hilirisasi agroindustri, pengembangan turunan SDA, dan pariwisata nasional dengan Wakatobi sebagai jangkar.

FB IMG 1754374445505

“Jangan sekadar mengejar pekerjaan, tapi ciptakan lapangan kerja. Jangan sekadar bangga lulus, tapi buktikan kontribusi,” ujarnya, seraya menyebut bahwa momentum ini juga awal dari tantangan nyata—bukan akhir perjalanan.

Secara pribadi, Hugua mengaitkan sambutannya dengan pengalaman panjang yang dimulai dari kampus yang sama. Dari mahasiswa aktivis, ia melangkah menjadi Bupati Wakatobi dua periode, Anggota DPR RI, dan kini Wakil Gubernur. “Kalau saya bisa berdiri di sini hari ini, itu karena saya dulu duduk di bangku yang sama dengan Anda,” katanya, menguatkan spirit kebersamaan dan cita-cita tinggi bagi para lulusan.

FB IMG 1754374450685

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya mewujudkan Sulawesi Tenggara yang maju, aman, sejahtera, dan religius—sebuah visi Tricita yang berpadu dengan instruksi nasional dari Presiden. Ia menegaskan bahwa kehadiran negara harus dirasakan sejak lahir hingga akhir hayat warganya, bukan sekadar jargon dalam dokumen pembangunan.

Rektor UHO, Prof. Armid, S.Si., M.Si., D.Sc., yang baru saja dilantik pada 1 Agustus, dalam arahannya turut menegaskan bahwa wisuda bukanlah garis finish. “Ini awal dari pengabdian. Gunakan ilmu untuk kemaslahatan umat,” tuturnya, sembari mengapresiasi peran keluarga, dosen, hingga staf pendukung yang telah mengantar para mahasiswa melewati masa studi.

FB IMG 1754374505623

Pada wisuda kali ini, sebanyak 954 lulusan mengikuti prosesi hari pertama, sementara 948 lainnya dijadwalkan besok. Ketut Widiantari dari Prodi PGSD FKIP dinobatkan sebagai lulusan terbaik tingkat universitas dengan IPK 3,89.

Dalam nada yang senada dengan Wakil Gubernur, Rektor juga menekankan pentingnya Tracer Study untuk mendeteksi kiprah alumni di dunia nyata. “Partisipasi Anda adalah cermin keberhasilan kami,” pesannya. Ia juga menitip pesan moral: menjaga nama baik almamater tidak cukup hanya dengan capaian akademik, tetapi dengan kecerdasan yang berimbang dengan kebijaksanaan.

FB IMG 1754374489209

“Dunia akan hormat pada kepintaranmu. Tapi hanya akan meneladani jika engkau bijaksana,” pungkasnya.

Di balik toga, terselip harapan-harapan baru. Di pundak para lulusan, terpatri bukan hanya gelar, tetapi juga tanggung jawab sejarah. Jika pembangunan Sultra adalah maraton panjang, maka hari ini, tongkat estafet telah berpindah ke tangan mereka( Red)