KENDARI, Kongkritpost.com- Telepon itu tak berhenti berdering. Januari 2026 menjadi bulan sibuk bagi Call Center 112 Kota Kendari. Dalam sebulan, 4.336 panggilan masuk. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah sinyal: warga percaya pemerintahnya mau mendengar.
Kepercayaan itu mahal. Dan sedang diuji.
Memang, tidak semua panggilan berisi kebutuhan darurat. Sekitar 1.028 panggilan masuk kategori prank dan ghost call. Tapi 3.308 panggilan lainnya valid—suara warga yang benar-benar meminta kehadiran negara.
Di sinilah peran Pemkot Kendari diuji, bukan untuk sempurna, tapi untuk hadir dan bekerja.
Dari ribuan panggilan itu, 289 laporan diterjemahkan menjadi tiket kejadian dan diteruskan ke instansi teknis. Artinya, sistem penyaringan bekerja. Laporan tidak dibiarkan liar, tapi diproses secara terukur.
Kepala Dinas Kominfo Kota Kendari, Sahuriyanto Meronda, menyebut data ini sebagai gambaran kemajuan sekaligus tantangan.
“Partisipasi masyarakat sangat tinggi. Ini modal besar. Tinggal bagaimana respons di lapangan terus kita percepat,” ujarnya Selasa (3/2/2026)
Angka penyelesaian pun menunjukkan gerak. 169 laporan atau 58 persen telah tuntas ditangani. Sisanya masih berproses. Bukan macet, tapi berjalan.
Jenis laporan mencerminkan problem klasik kota yang sedang tumbuh. Lampu jalan dan pohon menjadi dua keluhan terbanyak. Disusul gangguan listrik, persoalan sampah, hingga ketertiban umum.
Namun di balik itu, ada cerita yang jarang disorot: instansi-instansi yang bekerja senyap tapi efektif.
BPBD hampir menyapu bersih laporan. Damkar dan Dinsos menuntaskan seluruh laporan tanpa sisa. Polres dan PLN pun menunjukkan respons cepat. Ini bukan kebetulan. Ini hasil koordinasi.
Memang, masih ada pekerjaan rumah. DLHK, Dishub, dan PUPR menghadapi beban laporan yang lebih kompleks dan berlapis. Tapi Pemkot Kendari tidak menutup mata. Data 112 justru dijadikan alat evaluasi—bukan untuk mencari kambing hitam, tapi untuk memperbaiki ritme kerja.
Di tingkat kecamatan, peta persoalan terbaca jelas. Ada wilayah yang berkutat dengan sampah. Ada yang fokus pada ketertiban. Data ini penting. Pemerintah kini tahu, masalah kota tidak seragam, solusinya pun tidak bisa disamaratakan.
Di balik semua itu, ada para call taker—wajah pertama pemerintah. Mereka mendengar amarah, kepanikan, harapan, bahkan candaan iseng. Nurhayati, Musrifin, dan Irwan adalah nama-nama yang menjaga garis depan pelayanan.
Evaluasi internal mencatat 67 persen layanan menunjukkan peningkatan. Sisanya masih perlu dibenahi. Dan Pemkot Kendari mengakuinya tanpa defensif.
“Call Center 112 adalah wajah respons cepat pemerintah,” kata Sahuriyanto.
Wajah itu kini semakin sering dilihat warga. Dan Pemkot Kendari tampaknya paham satu hal penting: dipercaya itu berat, tapi diabaikan jauh lebih berbahaya.
Ke depan, Call Center 112 bukan sekadar nomor darurat. Ia menjadi cermin. Tempat pemerintah bercermin, lalu membenahi diri. Karena bagi warga, satu panggilan yang ditindaklanjuti lebih bermakna daripada seribu janji(Red)





