KENDARI, Kongkritpost.com- Menjelang puncak perayaan Hari Ulang Tahun ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara, kawasan Tugu Persatuan MTQ Kendari tak hanya dipercantik di permukaan. Pemerintah kini mulai menyisir detail yang sering luput dari perhatian: kelayakan stand UMKM, kebersihan area, hingga kondisi toilet umum.

Di tengah hiruk-pikuk persiapan acara, Direktur Utama Perumda Utama Sultra, Akhmad Rizal, turun langsung memastikan kawasan eks MTQ siap menjadi pusat keramaian tanpa meninggalkan kenyamanan pengunjung.

Kamis (23/4/2026), Rizal menegaskan bahwa area eks MTQ kini berada di bawah pengelolaan resmi Perumda. Karena itu, seluruh aktivitas usaha di dalam kawasan harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

“Ini bukan soal mengusir siapa-siapa. Ini murni penataan kawasan agar tertib, nyaman, dan layak,” tegasnya.

Pernyataan itu sekaligus menjawab kekhawatiran sebagian pedagang yang sebelumnya menilai penataan identik dengan penghilangan ruang usaha.

Menurut Rizal, selama ini penggunaan trotoar dan bahu jalan untuk berjualan kerap memicu masalah klasik perkotaan: kemacetan, pejalan kaki terganggu, dan parkir liar tumbuh tanpa kendali.

Bahasa sederhananya, ekonomi jalan terus, tapi kota ikut sesak.

Sebagai jalan keluar, pemerintah menyiapkan 100 unit tenant permanen di area utama. Namun pengisiannya tidak asal tempel nama.

Para pelaku UMKM akan melalui tahapan seleksi dan kurasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan bersama Dinas Pariwisata, lalu direkomendasikan kepada Perumda.

Skema ini dimaksudkan agar kawasan MTQ tidak berubah menjadi pasar dadakan yang semrawut, melainkan pusat kuliner dan usaha rakyat yang tertata.

Meski begitu, pemerintah mengakui jumlah tenant belum cukup menampung semua pedagang. Karena itu, ruang tambahan tengah disiapkan bagi pelaku usaha yang belum terakomodasi.

Namun yang menarik, pengecekan tak berhenti pada lapak jualan.

Rizal memastikan fasilitas penunjang seperti toilet umum, drainase, kebersihan lingkungan, dan kenyamanan jalur pejalan kaki juga masuk daftar prioritas.

Langkah ini penting. Sebab acara besar sering sukses di panggung, tetapi gagal di belakang layar—terutama saat toilet kotor dan sampah menumpuk.

Kawasan MTQ kini sedang diarahkan menjadi etalase Sultra: wajah provinsi yang rapi, ramah pengunjung, sekaligus memberi ruang bagi ekonomi rakyat.

Jika penataan ini berhasil, Kendari tak hanya menunjukkan kemeriahan ulang tahun provinsi, tetapi juga pelajaran penting bahwa kota modern bukan cuma soal dekorasi lampu, melainkan kemampuan mengatur ruang publik dengan akal sehat*