KENDARI, Kongkritpost.com- Sabtu malam, 18 April 2026, Hotel Claro Kendari bukan sekadar lokasi reuni. Ia berubah menjadi ruang nostalgia, tempat kenangan bertemu masa depan. Ratusan alumni Universitas Sulawesi Tenggara berkumpul dalam Musyawarah Wilayah dan Reuni Akbar I Ikatan Keluarga Alumni Universitas Sulawesi Tenggara (IKA Unsultra).
Di ruangan itu, tawa lama bersua wajah baru. Nama-nama yang dulu akrab di bangku kuliah kini hadir dengan profesi berbeda: pengacara, birokrat, akademisi, pengusaha, politisi. Namun malam itu, semua kembali pada satu identitas: alumni Unsultra.
Momentum puncak datang ketika pataka organisasi diserahkan secara simbolis. Bendera itu bukan hanya kain bertiang. Ia adalah lambang kebersamaan, kebanggaan, dan kesinambungan.
“Bismillahirrahmanirrahim. Saya serahkan Pataka IKA Unsultra,” ucap penyerah pataka, disambut tepuk tangan panjang dan gema takbir yang menggema di ruangan.
Pataka kemudian diterima dengan janji yang tegas.
“Saya terima bendera pataka ini, dan saya akan kibarkan di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara.”
Kalimat itu menjadi penanda arah baru organisasi alumni.
Dalam forum musyawarah, satu nama kemudian menguat tanpa perlawanan. Dr. Abdul Rahman, SH., MH. terpilih secara aklamasi sebagai Ketua IKA Unsultra periode 2026–2029.
Terpilihnya Abdul Rahman menandakan satu hal: alumni menginginkan kepemimpinan yang menyatukan, bukan memecah. Di tengah banyak organisasi alumni yang sibuk seremonial, IKA Unsultra dihadapkan pada tantangan lebih besar—menjadi kekuatan nyata bagi kampus dan daerah.
Dalam sambutannya, Abdul Rahman menegaskan pentingnya hubungan erat antara alumni dan almamater.
“IKA ini harus bersinergi dengan universitas,” ujarnya.
Pesan itu sederhana, tapi dalam. Sebab kampus tanpa alumni ibarat pohon tanpa cabang. Dan alumni tanpa kampus akan kehilangan akar sejarahnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada panitia dan steering committee yang dianggap sukses menyatukan banyak angkatan dalam satu forum besar.
Malam itu, Kendari menjadi saksi bahwa jaringan alumni bukan hanya tempat bernostalgia. Jika dikelola serius, ia bisa menjadi kekuatan intelektual, ekonomi, dan sosial bagi Sulawesi Tenggara.
Kini tugas berat menanti kepengurusan baru. Menghidupkan database alumni, membuka ruang kolaborasi kerja, beasiswa, mentoring mahasiswa, hingga menjadi mitra strategis kampus.
Pataka sudah berpindah tangan. Pertanyaan berikutnya: seberapa tinggi ia akan berkibar*




