KENDARI, Kongkritpost.com- Sulawesi Tenggara bersiap menyalakan salah satu hajatan budaya terbesar tahun ini. Harmoni Sultra 2026 kini memasuki tahap pematangan akhir dengan fokus pada detail teknis, kolaborasi lintas sektor, hingga digitalisasi penyelenggaraan acara.
Persiapan itu dibahas dalam Technical Meeting yang digelar Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra, Rabu (15/4/2026). Forum ini menjadi ruang “bedah skema” seluruh rangkaian kegiatan sebelum pelaksanaan resmi pada 24–27 April 2026 di Kota Kendari.
Kepala Dinas Pariwisata Sultra, Ridwan Badallah, menegaskan bahwa tahun ini Harmoni Sultra tidak sekadar festival seremonial, tetapi dirancang sebagai event terintegrasi yang menggabungkan budaya, ekonomi kreatif, dan promosi daerah dalam satu panggung besar.
“Ini bukan hanya soal acara, tapi bagaimana semua sektor bergerak bersama. Harmoni Sultra harus jadi ruang kolaborasi,” ujarnya.
Salah satu keputusan penting adalah penetapan Kota Kendari sebagai pusat kegiatan. Kesepakatan itu diambil bersama 17 dinas pariwisata kabupaten/kota dengan pertimbangan efisiensi anggaran serta kesiapan infrastruktur. Dengan skema ini, Kendari diproyeksikan menjadi etalase utama budaya Sultra dalam empat hari pelaksanaan.
Rangkaian kegiatan pun disusun padat dan berlapis. Mulai dari pameran UMKM di kawasan Tugu Religi MTQ dengan 130 stan, pawai budaya dan Lulo Massal, lomba cipta menu pangan lokal, lomba tari kreasi, hingga lomba lagu eksekutif dan drama musikalitas.
Di titik ini, Harmoni Sultra 2026 tidak lagi sekadar agenda hiburan. Ada desain ekonomi yang ikut dibangun. Kehadiran ratusan pelaku UMKM di satu lokasi menjadi strategi untuk mendorong perputaran ekonomi langsung di tengah keramaian pengunjung.
Pawai budaya yang melibatkan TNI, Polri, pelajar, hingga delegasi daerah juga diposisikan sebagai “panggung identitas”, sementara Lulo Massal diarahkan sebagai simbol kebersamaan masyarakat Sultra.
Menariknya, dalam edisi tahun ini, panitia mulai menggeser pola konvensional ke arah digital. Sistem registrasi dan interaksi pengunjung akan menggunakan platform mytiket.co.id berbasis QR Code. Teknologi ini digunakan untuk buku tamu digital hingga sistem voting stan terbaik secara real-time oleh pengunjung.
Transformasi ini menandai perubahan pendekatan penyelenggaraan event daerah: dari sekadar festival manual menuju event berbasis data dan partisipasi digital.
Selain itu, beberapa lomba juga dibuat dengan konsep unik. Lomba lagu eksekutif mewajibkan kepala daerah tampil langsung tanpa diwakilkan, sementara drama musikalitas memadukan unsur seni pertunjukan modern dengan durasi terbatas yang menuntut kreativitas tinggi.
Secara analisis, Harmoni Sultra 2026 memperlihatkan dua arah besar: penguatan identitas budaya dan dorongan ekonomi kreatif berbasis event. Jika berjalan sesuai rencana, kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga mesin promosi daerah dan penggerak ekonomi lokal dalam skala besar.
Dengan desain yang semakin terstruktur dan pendekatan digital yang mulai diadopsi, Sulawesi Tenggara tampak tengah membangun pola baru: menjadikan event budaya bukan sekadar agenda tahunan, tetapi instrumen pembangunan daerah yang lebih modern dan terukur*




