JAKARTA, Kongkritpost.com- Upaya penguatan konservasi tumbuhan endemik Sulawesi kembali ditegaskan oleh Universitas Halu Oleo (UHO) dalam forum nasional pengelola kebun raya yang digelar di kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Rabu (15/4/2026). Dalam forum tersebut, UPA Kebun Ilmu Hayati Universitas Halu Oleo memaparkan perkembangan terbaru Kebun Raya UHO yang kini diposisikan sebagai salah satu simpul penting konservasi *ex situ* di kawasan timur Indonesia.
Kepala UPA Kebun Ilmu Hayati, Prof. Dr. Faisal Danu Tuheteru, S.Hut., M.Si., menjelaskan bahwa Kebun Raya UHO dengan luas 22,8 hektare telah berkembang dengan pendekatan zonasi tematik, meliputi hutan sekunder seluas 18 hektare, kawasan rawa 3 hektare, dan arboretum 1 hektare. Model pengelolaan ini, kata dia, menjadi dasar penguatan fungsi kebun raya tidak hanya sebagai ruang hijau, tetapi juga laboratorium hidup bagi riset biodiversitas Sulawesi.
Dalam forum yang sama, UHO juga menegaskan kembali komitmen kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui perpanjangan nota kesepahaman (MoU) yang telah terjalin sejak 2015. Kerja sama ini menjadi penopang utama pengembangan riset, konservasi, hingga penguatan kapasitas kelembagaan kebun raya di lingkungan kampus.
Prof. Faisal menuturkan bahwa koleksi tumbuhan yang ada saat ini merupakan hasil eksplorasi mandiri serta kolaborasi ilmiah lintas institusi. Tahun ini, UHO bahkan menyiapkan ekspedisi lanjutan ke Wakatobi untuk memperkaya koleksi tumbuhan endemik pesisir dan kepulauan Sulawesi.
Meski menunjukkan perkembangan signifikan, tantangan besar masih membayangi, terutama terkait keterbatasan anggaran dan kebutuhan menjaga keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan pelestarian kawasan hutan alami yang masih dominan. Dalam satu tahun terakhir, UHO mencatat adanya peningkatan fasilitas dasar seperti akses jalan dan gerbang kawasan, meski penguatan fasilitas inti masih terus dibutuhkan.
Di sisi lain, pengembangan riset terus berjalan, termasuk penelitian tumbuhan obat dari famili Zingiberaceae asal Sulawesi serta percepatan sistem inventarisasi digital koleksi yang ditargetkan rampung tahun ini. Upaya ini diharapkan memperkuat basis data ilmiah kebun raya sebagai rujukan penelitian nasional.
Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Hendrian, memberikan apresiasi terhadap konsistensi UHO dalam mengembangkan kebun raya berbasis riset dan edukasi. Ia menilai UHO memiliki peluang besar menjadi pusat konservasi strategis di Indonesia Timur, mengingat tingginya tingkat endemisitas flora Sulawesi yang tidak dimiliki wilayah lain.
Namun demikian, ia mengingatkan agar pengembangan infrastruktur tetap dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak ekosistem alami yang menjadi kekuatan utama kawasan tersebut.
Pendamping Kebun Raya UHO, Zahra Nindira, menambahkan bahwa penguatan tata kelola menjadi kunci utama keberlanjutan, mulai dari penyusunan Detail Engineering Design (DED) hingga dokumentasi koleksi yang lebih sistematis dan terstandar.
Ia juga menilai konsistensi UHO dalam kegiatan eksplorasi tahunan, webinar, dan workshop ilmiah menjadi modal penting dalam memperkuat reputasi akademik kebun raya. Ke depan, UHO didorong memperluas jejaring internasional melalui Botanic Gardens Conservation International sebagai bagian dari integrasi konservasi global.
Dengan penguatan riset, ekspansi eksplorasi, dan dukungan jejaring nasional hingga internasional, Kebun Raya UHO kini berada pada fase penting transformasi—dari kebun kampus menjadi kandidat kuat pusat konservasi strategis yang diperhitungkan di tingkat nasional*



