KENDARI, Kongkritpost.com- Sistem yang dulu dianggap solusi kini mulai dipertanyakan. Salah satu driver transportasi online di Kendari mengaku kian terdesak—tarif turun, beban naik, perlindungan nyaris tak terasa.
Suara itu datang dari salah satu mitra driver, Lukmanul Hakim. Ia menyebut kondisi saat ini jauh dari kata layak, bahkan cenderung merugikan.
“Sejak 2018 tarif bukannya naik, justru makin turun. Skemanya sepihak, kami hanya mengikuti,” ujarnya, Kamis (9 April 2026).
Gambaran di lapangan cukup gamblang. Untuk layanan roda empat, pendapatan bersih dari perjalanan jarak dekat hanya sekitar Rp8.000. Sementara tarif per kilometer berada di kisaran Rp3.700—itu pun masih dipotong komisi aplikasi hingga 20 persen.
Bagi driver, angka itu bukan sekadar kecil. Itu tanda tekanan yang terus membesar.
Masalah tak berhenti di tarif.
Kebijakan atribut, seperti kewajiban pemasangan stiker di kendaraan pribadi, juga menuai kritik. Bagi Lukman, aturan itu dianggap melampaui batas karena menyangkut kepemilikan pribadi.
“Mobil itu milik kami, bukan perusahaan. Tapi kami dipaksa pasang atribut,” katanya.
Yang paling disorot justru soal keselamatan. Menurutnya, ketika risiko terjadi—kecelakaan atau kerusakan kendaraan—driver dibiarkan menanggung sendiri.
“Tidak ada tanggung jawab nyata dari aplikator. Semua risiko di lapangan kami tanggung sendiri,” tegasnya ujarnya Kamis (9/4/2026)
Kondisi inilah yang memicu pergeseran cara pandang. Sistem online yang dulu menjanjikan fleksibilitas kini mulai ditinggalkan sebagian driver.
Sebagai gantinya, sistem konvensional—atau offline—kembali dilirik. Alasannya sederhana: tanpa potongan komisi, seluruh pendapatan bisa langsung diterima.
Fenomena ini menjadi sinyal penting. Bahwa di balik kemudahan teknologi, ada persoalan keseimbangan yang belum tuntas.
Para driver kini menunggu satu hal: kehadiran negara.
Regulasi tarif yang adil dan perlindungan kerja yang jelas dinilai mendesak. Tanpa itu, sistem transportasi online berisiko kehilangan kepercayaan dari mereka yang selama ini menjadi tulang punggungnya*


