KENDARI, Kongkritpost.com- Hari kedua perayaan HUT ke-62 Sulawesi Tenggara berubah rasa. Jika pembukaan di Kendari penuh nuansa seremoni, Sabtu (25/4/2026) suasana bergeser ke Pulau Bokori. Laut biru, angin pantai, dan keramaian warga menjadi panggung baru bernama Festival Bokori.

Pagi dimulai dengan kayuhan sepeda. Gubernur Sulawesi Tenggara Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka memimpin fun bike bersama Forkopimda, para kepala daerah, pejabat OPD, komunitas sepeda, dan masyarakat. Rombongan bergerak bukan sekadar olahraga, tetapi memberi pesan bahwa pesta daerah tak harus selalu duduk di kursi VIP. Kadang cukup berkeringat bersama rakyat.

Fun bike itu seperti pemanasan sebelum pertunjukan utama dimulai. Sebab setibanya di Bokori, agenda demi agenda langsung bergulir.

Ada lomba memasak makanan halal yang diikuti TP PKK se-Sulawesi Tenggara dan para pelajar. Aroma dapur bersaing dengan semilir angin laut. Ada pula penanaman pohon, sebagai penanda bahwa pesta tak boleh melupakan alam yang menjadi tuan rumah.

Bagi yang suka tantangan, tersedia fun fishing. Di Bokori, memancing bukan hanya soal ikan yang didapat, tetapi juga soal kesabaran yang diuji. Kadang kail mengajar lebih banyak daripada pidato.

Namun yang paling mencuri perhatian tentu atraksi ASR Flying Board. Gubernur Andi Sumangerukka tampil langsung menggunakan flying board di atas air. Momen itu membuat Bokori mendadak seperti panggung olahraga ekstrem internasional.

Tak banyak kepala daerah mau basah-basahan demi hiburan rakyat. Tapi di Bokori, gubernur memilih naik papan terbang, bukan sekadar naik podium. Tepuk tangan pun pecah di bibir pantai.

Dalam sambutannya, ASR menekankan pentingnya kesehatan. Menurutnya, tubuh sehat adalah investasi jangka panjang. Kalimat klasik, tetapi selalu relevan. Sebab di zaman serba cepat, orang sering lupa bahwa stamina adalah modal utama.

Ia juga menyebut rangkaian HUT Sultra dirancang untuk semua lapisan masyarakat. Ada yang suka olahraga, ada yang suka masak, ada yang hobi memancing, ada pula yang datang sekadar menikmati suasana. Semua mendapat ruang.

Festival Bokori akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda ulang tahun provinsi. Ia menjelma etalase wisata, ruang kebersamaan, panggung hiburan, sekaligus promosi gaya hidup sehat.

Sultra tampaknya sedang belajar bahwa perayaan tak harus selalu formal dan kaku. Kadang daerah justru terlihat hidup ketika pemimpinnya bersepeda bersama rakyat, tertawa di tepi pantai, lalu terbang di atas laut*