KENDARI, Kongkritpost.com- Kalau dulu orang datang ke Tugu Persatuan eks MTQ cuma untuk foto-foto, sekarang ceritanya beda.
Tempat ini berubah.
Bukan sekadar lebih rapi. Tapi sudah naik level jadi “ruang hidup” ekonomi rakyat.
Menjelang puncak HUT ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara, kawasan ini disulap jadi pusat belanja dan hiburan yang denyutnya terasa tiap malam. Lampu-lampu menyala, lapak berjejer, aroma kuliner bercampur dengan riuh tawar-menawar.
Bahasa sederhananya: ini bukan lagi kawasan monumen.
Ini sudah jadi pasar malam versi modern.
Pemerintah Provinsi Sultra tampaknya tidak mau setengah-setengah. Mereka mulai “bedah total” dari hal besar sampai detail kecil yang selama ini sering diabaikan.
Mulai dari tata letak lapak yang kini lebih tertib—tidak lagi semrawut—hingga jalur pengunjung yang dibuat lebih lega. Istilah di lapangan: tidak ada lagi “macet orang”.
Fasilitas juga ikut digenjot.
Tempat sampah disiapkan, penerangan diperbaiki, dan area dibuat lebih bersih. Hal-hal yang dulu dianggap sepele, sekarang justru jadi perhatian utama.
Karena satu hal mulai disadari:
pembeli datang bukan cuma cari barang, tapi juga pengalaman.
Dan itu yang sedang dibangun di eks MTQ.
Tidak berhenti di situ, pemerintah juga mulai “main kurasi”. UMKM didorong menampilkan produk unggulan—bukan sekadar jualan asal ada.
Artinya, pelaku usaha tidak bisa lagi sekadar buka lapak.
Harus punya identitas.
Harus punya kualitas.
Di sinilah mulai terasa pergeseran mindset: dari pedagang biasa menuju pelaku usaha yang siap bersaing.
Seorang pengunjung, Rahmat, merasakan langsung perubahan itu.
“Sekarang enak datang ke sini. Tidak cuma lihat tugu, tapi bisa belanja nyaman,” ujarnya Sabtu (25/4/2026)
Kalimat sederhana, tapi menggambarkan perubahan besar.
Dampaknya juga langsung terasa.
Perputaran uang di kawasan ini mulai “ngebut”. UMKM yang sebelumnya sepi, kini kebanjiran pembeli. Ada yang menyebut omzet naik berkali lipat, terutama saat malam akhir pekan.
Ini yang sering disebut efek “multiplier”—ketika satu event bisa menggerakkan banyak kantong ekonomi sekaligus.
Dari pedagang makanan, penjual kerajinan, sampai parkir—semua ikut hidup.
Menariknya, kawasan ini juga jadi alternatif wisata murah meriah. Warga tidak perlu ke tempat jauh. Cukup ke eks MTQ, semua ada: kuliner, belanja, hiburan.
Dan itu yang bikin tempat ini cepat jadi magnet.
Momentum HUT Sultra akhirnya tidak berhenti di panggung seremoni.
Tapi menjalar ke lapangan.
Ke lapak-lapak kecil.
Ke tangan-tangan pelaku UMKM.
Dengan wajah baru yang lebih tertata, eks MTQ Kendari seperti sedang mengirim pesan:
kalau dikelola serius, ruang publik bukan cuma tempat kumpul—
tapi bisa jadi mesin ekonomi rakyat*




