KENDARI, Kongkritpost.com-Jumat siang itu, jalanan Kendari tidak sekadar dipadati warga. Ia berubah menjadi panggung raksasa tempat identitas, kebanggaan, dan politik kebudayaan berjalan beriringan.
Wali Kota Kendari, dr. Hj. Siska Karina Imran, tampil memimpin langsung barisan Pemerintah Kota Kendari dalam Pawai Budaya Hari Ulang Tahun ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara, Jumat (24/4/2026). Bersama Wakil Wali Kota Sudirman, Ketua TP PKK Shintya, dan Sekda Amir Hasan, Siska membawa satu pesan sederhana: kota ini tahu cara menghormati akar sambil menatap masa depan.
Rute dari Balai Kota menuju Tugu MTQ bukan sekadar jalur pawai. Ia menjadi semacam karpet merah bagi Kendari untuk memperkenalkan diri di hadapan Sulawesi Tenggara. Di kiri kanan jalan, warga berdiri menonton. Di tengah jalan, rombongan bergerak penuh semangat. Di udara, ada rasa bangga yang sulit disembunyikan.
Jajaran Pemkot turun lengkap. Asisten, staf ahli, kepala OPD, camat, hingga lurah ikut membaur dalam barisan. Biasanya mereka ditemui di ruang rapat berpendingin udara. Kali ini mereka turun ke jalan, berkeringat bersama rakyat. Itu simbol yang kuat: birokrasi tak selalu harus terlihat formal untuk bisa dekat dengan publik.
Sepanjang perjalanan, beragam atribut budaya khas daerah ditampilkan. Busana adat, corak lokal, warna etnis, dan ekspresi tradisi membuat pawai ini terasa hidup. Bukan pertunjukan kosong, melainkan pengingat bahwa Kendari dibangun dari banyak suku, banyak cerita, dan banyak warisan.
Di era ketika banyak kota berlomba tampil modern dengan gedung kaca dan slogan asing, Kendari memilih tampil dengan caranya sendiri: menunjukkan bahwa budaya lokal masih punya daya pikat yang tak kalah mahal.
Setibanya di kawasan MTQ, rombongan disambut Gubernur Sultra Andi Sumangerukka bersama Forkopimda. Suasana hangat itu seperti menegaskan bahwa hubungan provinsi dan daerah bukan sekadar soal anggaran dan administrasi, tetapi juga kebersamaan dalam merawat identitas.
Saat sinopsis Kota Kendari dibacakan, nama ibu kota Sultra itu tak hanya dikenang sebagai pusat pemerintahan. Kendari dikenalkan sebagai kota yang tumbuh cepat, punya potensi besar, dan dipercaya menjadi tuan rumah UCLG ASPAC. Ini bukan detail kecil. Ini sinyal bahwa Kendari sedang menyiapkan diri naik kelas di panggung regional.
Keikutsertaan Siska memimpin langsung pawai juga punya makna politik tersendiri. Di tengah banyak kepala daerah yang memilih cukup hadir di tribun, ia turun di barisan depan. Dalam bahasa publik, pemimpin yang berjalan bersama rakyat selalu lebih mudah dibaca ketimbang pemimpin yang hanya melambaikan tangan dari kejauhan.
HUT Sultra ke-62 akhirnya bukan hanya perayaan umur provinsi. Bagi Kendari, ini momentum memperlihatkan satu hal penting: kota ini ingin tumbuh modern, tapi menolak kehilangan jati diri.
Dan ketika Siska memimpin langkah di jalanan itu, Kendari seolah berkata lantang: kami bukan sekadar ibu kota, kami adalah wajah Sultra hari ini*



