KENDARI, Kongkritpost.com- Wacana menghidupkan kembali Fakultas Pertambangan di lingkungan Universitas Halu Oleo (UHO) kembali mencuat di tengah proses pemilihan rektor. Gagasan tersebut dinilai bukan sekadar kebutuhan akademik, melainkan langkah strategis untuk menjawab potensi besar sumber daya alam yang dimiliki Sulawesi Tenggara (Sultra).

Salah satu calon Rektor UHO, Prof Ruslin, menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan kembali berdirinya Fakultas Pertambangan dan Fakultas Teknologi Pertanian apabila mendapat amanah memimpin kampus terbesar di Sultra tersebut.

Menurut Prof Ruslin, program studi yang berkaitan dengan sektor pertambangan sejatinya pernah hadir sebagai entitas tersendiri. Namun, seiring perubahan regulasi dan kebijakan restrukturisasi dari pemerintah pusat, program tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).

“Insyaallah kalau saya diamanahi menjadi pimpinan, itu yang akan saya perjuangkan untuk dibuka lagi, yaitu Fakultas Pertambangan dan Teknologi Pertanian,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).

Pernyataan tersebut mendapat perhatian karena muncul di tengah meningkatnya kebutuhan tenaga profesional di sektor pertambangan dan hilirisasi mineral yang kini menjadi salah satu motor penggerak ekonomi Sulawesi Tenggara.

Secara geografis dan ekonomi, Sultra merupakan salah satu daerah dengan cadangan nikel terbesar di Indonesia. Aktivitas pertambangan dan industri pengolahan mineral berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, sehingga kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memiliki kompetensi spesifik di bidang pertambangan semakin tinggi.

Dalam perspektif pembangunan daerah, kehadiran fakultas khusus pertambangan dinilai dapat memperkuat hubungan antara dunia akademik dan industri. Kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga berperan sebagai lembaga riset yang mampu menghasilkan inovasi serta tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan sektor strategis daerah.

Prof Ruslin menilai keberadaan Fakultas Pertambangan akan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara universitas dan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Sulawesi Tenggara.

“Sultra memiliki potensi tambang yang sangat besar. Karena itu, fakultas yang fokus pada bidang pertambangan sangat penting untuk mendukung pengembangan daerah sekaligus memperkuat kerja sama kampus dengan dunia industri,” katanya.

Selain Fakultas Pertambangan, Prof Ruslin juga menyoroti pentingnya Fakultas Teknologi Pertanian. Menurutnya, sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat Sultra yang membutuhkan dukungan teknologi dan inovasi agar mampu bersaing di era modern.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa peluang pembukaan fakultas baru akan semakin terbuka apabila status kelembagaan UHO berubah menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Status tersebut memberikan tingkat otonomi yang lebih besar kepada perguruan tinggi dalam mengelola program akademik, termasuk membuka maupun menutup program studi sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman.

Berbeda dengan skema Badan Layanan Umum (BLU) yang masih memerlukan proses konsultasi dan persetujuan yang relatif panjang, PTN-BH memberikan fleksibilitas lebih tinggi dalam pengambilan keputusan strategis.

“Kalau posisi PTN-BH, itu dengan mudah kita buka karena sangat fleksibel. Namun jika statusnya masih BLU, tentu di masa-masa awal periode kepemimpinan tetap akan kita perjuangkan secara maksimal,” ujarnya.

Secara analitis, gagasan pembentukan kembali Fakultas Pertambangan dan Fakultas Teknologi Pertanian menunjukkan upaya menyelaraskan arah pendidikan tinggi dengan kebutuhan riil daerah. Di tengah pesatnya perkembangan industri tambang dan tuntutan modernisasi sektor pertanian, keberadaan fakultas yang fokus pada dua bidang tersebut dapat menjadi investasi jangka panjang dalam menyiapkan sumber daya manusia lokal yang kompetitif.

Apabila terealisasi, langkah tersebut tidak hanya memperkuat posisi UHO sebagai pusat pendidikan tinggi di Sulawesi Tenggara, tetapi juga berpotensi menjadikan kampus sebagai mitra strategis pembangunan daerah yang mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus mendorong lahirnya inovasi berbasis potensi lokal*