KONSEL, Kongkritpost.com-Tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki paket wisata selengkap Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW). Di satu kawasan, wisatawan bisa menyaksikan rusa berkeliaran, menelusuri rawa, menjelajah hutan mangrove, mengamati burung liar, menikmati savana, hingga menyaksikan tradisi budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
Namun ironi justru muncul di balik kekayaan tersebut. Jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan konservasi yang menjadi kebanggaan Sulawesi Tenggara itu masih tergolong rendah dan belum menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil.
Data Balai TNRAW mencatat, sepanjang Januari hingga Juni 2026 jumlah kunjungan wisatawan mencapai 1.989 orang. Mayoritas berasal dari Kota Kendari, disusul wisatawan dari luar Sulawesi Tenggara. Bahkan terdapat tiga wisatawan mancanegara yang tercatat berkunjung ke kawasan tersebut.
Bagi sebagian destinasi wisata, angka itu mungkin dianggap cukup. Namun untuk taman nasional yang menyimpan kekayaan hayati kelas dunia, angka tersebut masih jauh dari potensi sesungguhnya.
Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Muda TNRAW sekaligus Koordinator Wisata, Andi Amriyana Dea, S.Hut, mengakui kunjungan wisatawan hingga kini masih bersifat fluktuatif.
“Kunjungan wisatawan, khususnya pada akhir pekan, masih naik turun. Pengunjung datang dari berbagai daerah, bahkan beberapa kali ada wisatawan asing yang datang menikmati kawasan ini,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Padahal, jika melihat produk wisata yang tersedia, TNRAW memiliki keunggulan yang sulit ditandingi banyak destinasi lain di Sulawesi Tenggara.
Pada sektor wisata alam misalnya, pengunjung dapat menikmati panorama Bukit Ahuwali, Bukit Modus, Telusur Rawa Aopa, Jelajah Mangrove hingga Air Terjun Pinangootu. Pecinta satwa liar juga dapat melakukan pengamatan burung, melihat rusa di Pusat Konservasi Rusa (PKR), mengamati habitat alami anoa dataran rendah, hingga melakukan tracking dan hiking.
Belum lagi wisata pendidikan yang menawarkan Hutan Pendidikan Tatangge, Hutan Pendidikan Mandu-Mandula, Savana Education Track serta berbagai paket penelitian yang kerap diminati kalangan akademisi.
Di sisi lain, wisata budaya juga menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat menyaksikan aktivitas tradisional masyarakat dalam menangkap ikan di Rawa Aopa, kehidupan nelayan muara mangrove, hingga beragam tradisi budaya seperti Pesta Adat Suku Moronene, Upacara Melasti umat Hindu, dan ritual syukuran masyarakat Bugis di kawasan Sungai Mandu-Mandula.
Kelengkapan inilah yang membuat TNRAW sebenarnya bukan sekadar destinasi wisata, melainkan laboratorium alam dan budaya yang hidup.
Namun persoalan klasik kembali muncul: aksesibilitas dan fasilitas.
Andi Amriyana menilai pengembangan pariwisata di TNRAW tidak bisa hanya mengandalkan pengelola kawasan. Diperlukan sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan, hingga pelaku usaha dan investor.
“Kami masih sangat memerlukan bantuan serta alokasi anggaran dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten agar pengembangan kawasan wisata dapat berjalan optimal,” tegasnya.
Menurutnya, tiga komponen utama pariwisata yaitu aksesibilitas, amenitas, dan atraksi harus berkembang secara bersamaan. Tanpa jalan yang baik dan fasilitas yang memadai, promosi wisata akan sulit menghasilkan dampak maksimal.
Kondisi serupa juga dirasakan masyarakat Desa Tatangge yang berada di kawasan penyangga taman nasional.
Kepala Desa Tatangge, Suparman, menilai wilayahnya memiliki daya tarik wisata yang sangat besar karena menawarkan kombinasi antara wisata alam, hutan mangrove dan keberadaan satwa liar seperti rusa yang dapat dilihat langsung oleh pengunjung.
“Wisata di sini sebenarnya sangat potensial. Antusiasme masyarakat dan wisatawan cukup tinggi untuk berkunjung,” katanya.
Namun potensi besar tersebut masih terhambat buruknya akses jalan, keterbatasan kendaraan operasional dan minimnya fasilitas penunjang wisata.
Meski demikian, kawasan ini tetap mampu menarik ratusan pengunjung setiap bulan sebelum kebijakan efisiensi anggaran diberlakukan. Wisatawan datang dari Kendari, Bombana, Kolaka hingga berbagai wilayah lain di Sulawesi Tenggara.
Bahkan beberapa wisatawan dari Australia dan Jerman pernah berkunjung untuk menikmati keunikan ekosistem TNRAW.
Bagi masyarakat sekitar, keberadaan wisata alam ini bukan hanya soal rekreasi. Ada dampak ekonomi yang mulai dirasakan.
Cahyo, salah seorang warga setempat, mengatakan aktivitas wisata telah membantu menggerakkan usaha mikro masyarakat.
“Kehadiran wisata ini sangat baik karena meningkatkan perekonomian warga. Banyak pengunjung membeli produk UMKM lokal yang dijual masyarakat sekitar,” ujarnya.
Di sinilah letak persoalan sekaligus peluang besar TNRAW. Potensi alamnya sudah tersedia. Keanekaragaman hayati dan budayanya juga telah terbukti menjadi daya tarik. Yang masih kurang adalah keberpihakan dalam bentuk investasi, infrastruktur dan promosi yang berkelanjutan.
Jika akses jalan diperbaiki, fasilitas ditingkatkan dan promosi dilakukan secara serius, bukan tidak mungkin Rawa Aopa Watumohai akan menjadi salah satu magnet wisata terbesar di Sulawesi Tenggara.
Sebab sesungguhnya, TNRAW tidak kekurangan pesona. Ia hanya masih menunggu lebih banyak orang untuk menemukannya(Red)











