KONAWE, Kongkritpost.com- Di balik hamparan pepohonan pinus yang menjulang di Desa Baini, Kecamatan Sampara kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara tersimpan potensi wisata alam yang belum banyak dikenal masyarakat. Kawasan seluas sekitar 253 hektare itu kini mulai dirintis sebagai destinasi ekowisata, meski pengembangannya masih dilakukan secara bertahap dengan mengandalkan semangat swadaya masyarakat.

Screenshot 20260721 194939 Gallery

Pemerintah Desa Baini bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) memilih membangun fondasi terlebih dahulu sebelum menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata komersial. Karena itu, hingga kini pengunjung masih dapat menikmati kawasan Hutan Pinus Baini tanpa dikenakan tiket masuk.

Kepala Desa Baini, Edi Saputra, mengatakan pihaknya belum ingin membebankan biaya kepada wisatawan sebelum fasilitas dasar benar-benar tersedia.

Screenshot 20260721 194934 Gallery

“Masih tahap perintisan. Kami ingin pengunjung menikmati dulu suasana alamnya, sementara kami terus membenahi kawasan ini secara bertahap,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).

Menurutnya, fokus utama pemerintah desa saat ini adalah memenuhi kebutuhan paling mendasar, terutama penyediaan jaringan listrik dan penerangan di kawasan wisata agar aktivitas pengunjung, khususnya yang berkemah, menjadi lebih nyaman.

Screenshot 20260721 194845 Gallery

Selain itu, pemerintah desa juga mendorong pengajuan bantuan kepada pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi untuk mendukung pembangunan berbagai fasilitas penunjang seperti akses jalan, MCK, jaringan air bersih, gazebo, hingga aula terbuka.

Sementara itu, Wakil Ketua Pokdarwis Desa Baini, Ardan Saputra, menilai Hutan Pinus Baini memiliki keunggulan yang sulit ditemukan di daerah lain di Sulawesi Tenggara.

Screenshot 20260721 194655 Gallery

Dengan luas mencapai 253 hektare, kawasan tersebut tidak hanya menawarkan panorama hutan pinus, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai kawasan edukasi, penelitian, hingga wisata budaya.

Menurut Ardan, Desa Baini kini telah resmi ditetapkan sebagai Desa Wisata melalui Surat Keputusan Bupati Konawe. Status tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan kawasan wisata secara lebih terarah.

Screenshot 20260721 194819 Gallery

Konsep yang diusung adalah Ecopark, menggabungkan wisata alam dengan edukasi lingkungan dan penelitian ilmiah.

Ia mengungkapkan, sejumlah mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) pernah melakukan penelitian di kawasan tersebut dan menemukan jejak terumbu karang purba di kawasan pegunungan. Temuan itu dinilai menjadi bukti bahwa wilayah tersebut memiliki nilai geologi yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Tak hanya itu, kawasan Hutan Pinus Baini juga menyimpan kekayaan sejarah dan budaya. Beberapa gua yang berada di dalam kawasan hutan pernah dieksplorasi oleh kelompok pecinta budaya, sementara sebagian area masih dijaga masyarakat sebagai kawasan adat yang dianggap sakral.

Screenshot 20260721 194758 Gallery

Meski telah masuk dalam tiga besar usulan destinasi unggulan dari Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, jumlah kunjungan wisatawan masih relatif terbatas. Selama hampir satu tahun terakhir, tercatat sekitar 300 orang berkunjung, sebagian besar pada akhir pekan.

Ardan menilai rendahnya angka kunjungan bukan disebabkan minimnya daya tarik, melainkan karena keterbatasan infrastruktur dan fasilitas pendukung.

Screenshot 20260721 194850 Gallery 1

Saat ini, seluruh penataan kawasan masih mengandalkan gotong royong masyarakat. Karang Taruna, Pokdarwis, dan sejumlah organisasi kepemudaan ikut menjaga kebersihan serta keamanan kawasan melalui kegiatan rutin.

“Ibarat berperang tanpa peluru. Semangat masyarakat sangat besar, tetapi fasilitas kami masih sangat terbatas. Kami membutuhkan dukungan nyata agar potensi besar ini benar-benar bisa berkembang menjadi destinasi wisata unggulan,” katanya.

Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, Hutan Pinus Baini dinilai memiliki peluang besar berkembang menjadi salah satu destinasi ekowisata unggulan di Kabupaten Konawe, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa melalui sektor pariwisata yang berkelanjutan(Red)