KONSEL, Kongkritpost.com- Sulawesi Tenggara sesungguhnya memiliki sebuah destinasi yang tidak dimiliki banyak daerah lain di Indonesia. Namanya Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW), kawasan konservasi yang menyimpan kekayaan alam, satwa liar, budaya lokal, hingga potensi ekonomi yang luar biasa besar.

Screenshot 20260724 211306 Gallery 1

Di satu kawasan, wisatawan dapat menyaksikan rusa di habitat konservasi, menelusuri rawa alami, menjelajahi hutan mangrove, menikmati bentangan savana, mengamati burung liar, hingga mengenal tradisi masyarakat yang masih terjaga dari generasi ke generasi.

Kombinasi tersebut menjadikan TNRAW bukan sekadar tempat wisata biasa. Kawasan ini merupakan etalase kekayaan alam dan budaya Sulawesi Tenggara yang memiliki nilai strategis bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Screenshot 20260724 211251 Gallery 1

Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai pun terus melakukan berbagai upaya untuk memperkenalkan potensi tersebut kepada masyarakat luas.

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Muda TNRAW sekaligus Koordinator Wisata, Andi Amriyana Dea, S.Hut, mengatakan minat masyarakat untuk berkunjung sebenarnya terus tumbuh. Sepanjang Januari hingga Juni 2026 tercatat sebanyak 1.989 wisatawan datang menikmati berbagai destinasi yang ada di kawasan taman nasional tersebut.

Screenshot 20260724 211210 Gallery 1

Mayoritas pengunjung berasal dari Kota Kendari dan berbagai daerah lain di Sulawesi Tenggara. Bahkan beberapa wisatawan luar provinsi hingga wisatawan mancanegara turut menjadikan TNRAW sebagai tujuan wisata alam.

“Kunjungan wisatawan memang masih fluktuatif, tetapi kami melihat antusiasme masyarakat terus ada. Bahkan beberapa wisatawan asing juga datang menikmati kawasan ini,” ujar Andi Amriyana Kamis (23/7/2026)

Menurutnya, daya tarik TNRAW terletak pada keberagaman pilihan wisata yang ditawarkan.

Screenshot 20260724 211114 Gallery

Pada kategori wisata alam, pengunjung dapat menikmati keindahan Bukit Ahuwali, Bukit Modus, Telusur Rawa Aopa, Jelajah Mangrove hingga Air Terjun Pinangootu. Bagi pecinta satwa dan fotografi alam, tersedia pula berbagai aktivitas pengamatan burung, pengamatan rusa, tracking habitat anoa dataran rendah, hiking hingga memancing.

Tidak hanya itu, TNRAW juga berkembang sebagai pusat wisata pendidikan dan penelitian. Hutan Pendidikan Tatangge, Hutan Pendidikan Mandu-Mandula, serta Savana Education Track menjadi laboratorium alam yang menarik bagi pelajar, mahasiswa, peneliti hingga akademisi.

Keunikan lain yang sulit ditemukan di tempat lain adalah kekayaan budaya masyarakat sekitar kawasan taman nasional. Wisatawan dapat menyaksikan aktivitas tradisional masyarakat dalam menangkap ikan di Rawa Aopa, kehidupan nelayan mangrove, hingga berbagai ritual budaya seperti Pesta Adat Suku Moronene, Upacara Melasti umat Hindu, dan tradisi syukuran masyarakat Bugis.

Screenshot 20260724 211302 Gallery 2

Potensi besar tersebut juga mendapat dukungan penuh dari masyarakat di kawasan penyangga taman nasional, salah satunya Desa Tatangge, Kecamatan Tinanggea.

Kepala Desa Tatangge, Suparman, menilai kawasan wisata yang berada di wilayahnya memiliki masa depan yang sangat cerah apabila mendapat perhatian lebih besar dari berbagai pihak.

Menurutnya, daya tarik wisata alam dan ekowisata mangrove yang dipadukan dengan keberadaan satwa liar menjadi keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain.

Screenshot 20260724 211147 Gallery

“Wisata di sini sangat potensial. Antusiasme masyarakat cukup tinggi untuk berkunjung karena mereka bisa menikmati alam sekaligus melihat satwa yang ada di kawasan ini,” katanya.

Ia menyebut kawasan tersebut pernah dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah seperti Kendari, Bombana, Kolaka hingga wisatawan mancanegara dari Australia dan Jerman.

Bahkan sebelum kebijakan efisiensi anggaran diberlakukan, kunjungan wisatawan dapat mencapai ratusan orang setiap bulan dan memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat sekitar.

Manfaat itu dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan UMKM yang menjual berbagai produk lokal kepada wisatawan yang datang berkunjung.

Screenshot 20260724 211232 Gallery

“Kehadiran wisata ini sangat membantu ekonomi masyarakat. Produk-produk UMKM warga juga ikut terjual ketika ada wisatawan yang datang,” ujar Cahyo, salah seorang warga setempat.

Meski demikian, pengembangan TNRAW masih membutuhkan dukungan lebih besar, terutama dalam hal infrastruktur, aksesibilitas dan fasilitas pendukung wisata.

Andi Amriyana menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan, dunia usaha, investor dan masyarakat menjadi faktor penting untuk mempercepat pengembangan kawasan.

Dengan dukungan tersebut, TNRAW diyakini mampu berkembang menjadi destinasi unggulan yang tidak hanya membanggakan Sulawesi Tenggara, tetapi juga Indonesia.

Screenshot 20260724 211056 Gallery 1

Sebab sesungguhnya, Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai telah memiliki semua syarat untuk menjadi destinasi besar: alam yang indah, satwa yang unik, budaya yang hidup, serta masyarakat yang siap menyambut wisatawan.

Yang dibutuhkan saat ini hanyalah kolaborasi dan keberpihakan agar potensi besar itu dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi baru bagi daerah sekaligus memperkenalkan wajah terbaik Sulawesi Tenggara kepada dunia( Red)