KENDARI, Kongkritpost.com- Malam di kawasan Tugu Persatuan eks MTQ berubah jadi panggung besar. Bukan konser, tapi “etalase” kekuatan daerah.
Gendang ditabuh. Tanda dimulainya Harmoni Sultra.
Di momen peringatan HUT ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara itu, Wali Kota Kendari, dr. Hj. Siska Karina Imran, SKM bersama Wakil Wali Kota Sudirman tampak tidak sekadar hadir. Mereka turun langsung—menyusuri stand, menyapa pelaku UMKM, hingga melihat dari dekat denyut ekonomi kreatif lokal.
Tema yang diusung tidak main-main: *“Produktif Untuk Sultra Sejahtera”*.
Dan itu terasa di lapangan.
Stand-stand pameran dipenuhi produk khas—mulai dari kerajinan tangan, olahan pangan lokal, hingga produk kreatif yang mulai “naik kelas”. Istilah populernya: dari UMKM pinggiran menuju pasar yang lebih luas.
Wali Kota Kendari tidak hanya melihat-lihat.
Ia memberi sinyal kuat: produk lokal harus jadi tuan rumah di daerah sendiri.
Kunjungan ke stand Pemerintah Kota Kendari dan Dekranasda jadi salah satu titik perhatian. Di sana, berbagai kerajinan khas dipamerkan—yang selama ini jadi “identitas diam-diam” Kota Kendari.
Kalau dikemas serius, ini bisa jadi mesin ekonomi baru.
Pembukaan acara sendiri dilakukan dengan simbol yang sarat makna: pemukulan gendang oleh Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, yang diikuti kepala daerah lainnya Ujarnya Jumat (24/4/2026)
Sederhana, tapi penuh pesan—harmoni.
Namun di balik kemeriahan itu, ada catatan penting.
Gubernur Sultra secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Wakatobi. Lokasi acara yang semula direncanakan di sana harus dipindahkan ke Kendari karena kendala teknis.
Sebagai “kompensasi konkret”, bukan sekadar janji, gubernur langsung mengalokasikan anggaran.
Rp5 miliar untuk pembangunan sektor pendidikan di Wakatobi. Ditambah pembangunan infrastruktur jalan.
Bahasa lugasnya: tidak jadi tuan rumah, tapi tetap dapat “kue pembangunan”.
Di sinilah menariknya Harmoni Sultra.
Ini bukan sekadar seremoni ulang tahun daerah. Tapi juga panggung kebijakan—tempat arah pembangunan diperlihatkan secara terbuka.
Bagi Kota Kendari sendiri, momentum ini jadi peluang emas.
Selain sebagai tuan rumah, juga sebagai etalase kemampuan daerah dalam mendorong produk lokal. Wali kota dan jajaran terlihat ingin memastikan satu hal:
UMKM tidak boleh hanya jadi pelengkap acara.
Harus jadi pemain utama.
Karena di tengah persaingan ekonomi yang makin ketat, daerah tidak cukup hanya mengandalkan APBD.
Harus ada “mesin baru”—dan itu ada di tangan pelaku usaha lokal.
Harmoni Sultra malam itu akhirnya bukan sekadar perayaan usia.
Tapi panggung pembuktian:
bahwa dari stand-stand sederhana, ekonomi daerah bisa mulai bergerak lebih besar*




