KENDARI, Kongkritpost.com- Pemerintah Kota Kendari tengah berpacu dengan waktu. Di tengah hitungan mundur menuju sejumlah agenda internasional, proyek revitalisasi ruang terbuka hijau (RTH) diposisikan sebagai etalase kesiapan kota. Fokus utama diarahkan pada penataan taman di jalur strategis, termasuk kawasan depan Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara.
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, turun langsung meninjau progres pekerjaan pada Selasa (28/4/2026). Kunjungan ini bukan sekadar seremoni lapangan, melainkan upaya memastikan proyek berjalan sesuai tenggat dan standar yang telah ditentukan. Di lokasi, perubahan visual memang tampak signifikan—area yang sebelumnya terkesan kumuh kini mulai menunjukkan wajah baru yang lebih tertata.
Namun di balik transformasi fisik tersebut, muncul pertanyaan klasik: sejauh mana penataan ini menyentuh kebutuhan mendasar warga kota? Pemerintah menekankan bahwa proyek ini tidak hanya berorientasi estetika, tetapi juga kenyamanan publik. Ragam tanaman hias yang digunakan diklaim tahan cuaca sekaligus memperkuat nilai visual, sementara pola penataan geometris dirancang untuk menciptakan kesan rapi dan modern.
Secara konseptual, taman ini juga diproyeksikan sebagai paru-paru kota di tengah padatnya aktivitas perkantoran. Fungsi ekologis ini penting, terutama di kawasan dengan intensitas kendaraan tinggi. Namun efektivitasnya tetap bergantung pada konsistensi perawatan, bukan sekadar pembangunan awal yang impresif.
Dorongan percepatan proyek mengindikasikan adanya tekanan besar untuk menampilkan citra kota yang siap menjadi tuan rumah event global. Jalur protokol menjadi prioritas, mencerminkan strategi visual yang lazim: mempercantik titik-titik yang paling terlihat oleh tamu luar. Di sisi lain, pendekatan ini kerap memunculkan kritik soal ketimpangan pembangunan antarwilayah dalam kota.
Pemerintah Kota Kendari menyatakan optimisme bahwa seluruh titik penataan akan rampung tepat waktu. Tetapi pengalaman di berbagai daerah menunjukkan, keberhasilan proyek semacam ini tidak hanya diukur dari ketepatan jadwal, melainkan juga dari keberlanjutan manfaatnya.
Kendari kini berada di persimpangan antara ambisi global dan kebutuhan lokal. Revitalisasi taman kota bisa menjadi simbol kemajuan, atau sekadar kosmetik sementara—bergantung pada bagaimana komitmen itu dijaga setelah sorotan internasional meredup*



