KENDARI, Kongkritpost.com- Nama Asrun Lio akhirnya menutup satu bab penting dalam perjalanan birokrasi Sulawesi Tenggara. Setelah lebih dari tiga tahun menjabat sebagai Sekretaris Daerah definitif, ia memilih mundur terhormat—kembali ke dunia yang sejak awal membentuknya: kampus.

Pamitan itu tidak sekadar formalitas. Di hadapan Gubernur Andi Sumangerukka, pertemuan berlangsung dalam nuansa reflektif. Ada jejak panjang yang ditinggalkan, ada pula arah baru yang mulai dituju.

Sejak dilantik Januari 2023, Asrun Lio bukan sosok yang tiba-tiba muncul di pucuk birokrasi. Ia adalah produk proses panjang: dari Pelaksana Tugas Kadis Pendidikan, kepala dinas definitif, Plh Sekda, hingga Penjabat Sekda. Tangga itu dilalui satu per satu, tanpa lompatan instan.

“Semua tahapan ini adalah amanah yang saya jalani bersama seluruh jajaran,” ujarnya. Senin (20/4/2026)

Namun, keputusan untuk mundur bukan tanpa alasan. Di balik jabatan tinggi, ada ambisi akademik yang belum selesai. Gelar profesor menjadi target berikutnya—sebuah panggilan yang, menurutnya, tak bisa lagi ditunda.

“Pengabdian tidak berhenti. Hanya berpindah ruang,” katanya, singkat tapi tegas.

Langkah ini sekaligus menjadi sinyal menarik: ketika banyak pejabat memilih bertahan di lingkar kekuasaan, Asrun Lio justru mengambil jalur sebaliknya—mundur saat masih berada di puncak.

Ia juga menyadari, capaian yang diraih selama menjabat bukanlah kerja individu. Mesin birokrasi, Forkopimda, hingga masyarakat menjadi bagian dari ekosistem yang saling menopang.

Ucapan terima kasih dan permohonan maaf pun disampaikannya. Sebuah penutup yang sederhana, tanpa euforia, tanpa dramatisasi berlebihan.

Kini, kursi Sekda Sultra resmi ditinggalkan. Tapi jejaknya masih akan dibaca dalam catatan birokrasi daerah. Sementara itu, Asrun Lio memilih kembali ke ruang kelas—tempat di mana gagasan lahir, dan masa depan disiapkan dengan cara yang berbeda*