KONSEL, Kongkritpost.com– Laut selalu memberi. Ikan, rumput laut, hingga kehidupan bagi ribuan keluarga pesisir. Namun laut juga memiliki batas. Ketika eksploitasi lebih cepat daripada upaya menjaga, yang tersisa hanyalah cerita tentang hasil tangkapan yang terus menurun.

IMG 20260725 WA0118

Kesadaran itulah yang menjadi pijakan PT DSSP Power Kendari saat menggelar Workshop Pengelolaan Kawasan Konservasi dan Perikanan Berkelanjutan di Dusun Beroro, Desa Ranooha Raya, Kabupaten Konawe Selatan, Sabtu (25/7/2026).

Kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi. Di baliknya tersimpan pesan bahwa menjaga laut tidak cukup dilakukan melalui aturan pemerintah, tetapi harus dimulai dari masyarakat yang setiap hari menggantungkan hidup di atasnya.

Puluhan tokoh masyarakat dari desa-desa di sekitar Teluk Moramo hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka mendapat pemahaman mengenai pentingnya kawasan konservasi, ancaman kerusakan ekosistem akibat praktik penangkapan ikan yang destruktif, hingga cara mengelola sumber daya laut agar tetap produktif tanpa merusak keseimbangan alam.

IMG 20260725 WA0116 1

Teluk Moramo, Aset Ekologi yang Tak Tergantikan

Pemilihan Teluk Moramo bukan tanpa alasan. Kawasan ini dikenal memiliki kekayaan hayati yang tinggi, mulai dari terumbu karang, padang lamun, hingga beragam spesies ikan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Namun, kawasan yang kaya juga rentan terhadap tekanan. Aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, pencemaran, hingga perubahan iklim menjadi ancaman nyata yang dapat menurunkan kualitas ekosistem jika tidak diantisipasi sejak dini.

Karena itu, pendekatan konservasi kini tidak lagi hanya mengandalkan patroli aparat, tetapi juga mengedepankan keterlibatan masyarakat sebagai penjaga pertama kawasan pesisir.

Government Relations PT DSSP Power Kendari, Risal Akbar, mengatakan Teluk Moramo memiliki fungsi ekologis yang sangat penting sehingga membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga keberlanjutannya.

Teluk Moramo merupakan kawasan dengan potensi sumber daya laut yang sangat besar sekaligus memiliki fungsi ekologis yang penting bagi masyarakat pesisir. Melalui workshop ini, kami ingin memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola kawasan konservasi sekaligus mendorong praktik perikanan yang berkelanjutan,” ujarnya

Konservasi Tak Cukup dengan Seminar

Yang menarik, kegiatan ini tidak berhenti pada penyampaian materi. PT DSSP Power Kendari juga menyerahkan bantuan operasional kepada kelompok nelayan yang selama ini aktif menjaga kawasan konservasi.

Bantuan tersebut diharapkan memperkuat patroli berbasis masyarakat untuk mencegah praktik-praktik yang merusak ekosistem laut, seperti pengeboman ikan maupun metode penangkapan lain yang tidak berkelanjutan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa konservasi membutuhkan dukungan nyata. Nelayan yang menjaga laut juga memerlukan fasilitas agar pengawasan tidak hanya menjadi slogan.

Kolaborasi Jadi Kunci

Workshop tersebut terlaksana melalui kolaborasi antara PT DSSP Power Kendari, Lembaga Masyarakat Sunu Lestari Teluk Moramo, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara, serta Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Sulawesi Tenggara.

Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi model yang semakin penting dalam pengelolaan kawasan konservasi. Pemerintah menghadirkan regulasi, aparat memperkuat penegakan hukum, perusahaan memberikan dukungan sumber daya, sementara masyarakat menjadi pelaku utama di lapangan.

Bahari Lestari Berlanjut

Workshop ini merupakan bagian dari Program Bahari Lestari, program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT DSSP Power Kendari yang telah berjalan sejak 2021.

Selama beberapa tahun terakhir, program tersebut berfokus pada rehabilitasi terumbu karang, perlindungan habitat pesisir, hingga pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan.

Memasuki 2026, program diperkuat melalui kemitraan dengan pengelola kawasan konservasi agar pengawasan berbasis masyarakat semakin efektif dan tata kelola kawasan menjadi lebih kolaboratif.

Upaya tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi perusahaan terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 14 (Life Below Water) yang menekankan perlindungan ekosistem laut dan pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan.

Di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem pesisir, langkah menjaga Teluk Moramo sesungguhnya bukan hanya tentang menyelamatkan laut hari ini. Lebih dari itu, menjaga laut berarti memastikan anak cucu nelayan masih bisa melaut, masih menemukan ikan, dan masih menggantungkan harapan pada perairan yang tetap lestari*