KENDARI, Kongkritpost.com- Tiga kursi rupanya belum membuat PAN Sulawesi Tenggara merasa cukup.
Di tengah konsolidasi besar-besaran internal partai, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Sultra mulai memasang target baru untuk pertarungan politik mendatang: enam kursi DPRD Provinsi Sultra.
Targetnya sederhana dalam angka, tetapi tidak sederhana dalam pertarungan. PAN ingin memiliki minimal satu kursi di setiap daerah pemilihan (dapil).
Target itu disampaikan oleh Afdhal Bendahara DPW PAN Sultra dalam rangkaian agenda PAN Sultra yang dihadiri langsung Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di Kendari.
Ada tiga agenda besar yang digelar sekaligus. Rumah PAN Sultra diresmikan, pengurus DPW dan DPD se-Sultra dilantik, kemudian kegiatan dilanjutkan dengan aksi sosial berupa pembagian paket sembako kepada masyarakat.
Namun di balik seremoni tersebut, ada pesan politik yang jauh lebih besar: PAN Sultra sedang menghidupkan kembali mesin politiknya.
“Hari ini agenda Ketua Umum di Sulawesi Tenggara khusus untuk PAN yaitu peresmian Rumah PAN Sultra, pelantikan pengurus DPW, serta pelantikan DPD se-Sulawesi Tenggara dari 17 kabupaten/kota,” ujar Bendahara DPW PAN Sultra Afdhal kepada media Selasa Malam (6/10/2026)
Rumah PAN yang baru bukan sekadar kantor.
Dalam politik, kantor partai adalah salah satu pusat konsolidasi. Dari sanalah strategi disusun, kader dikumpulkan, komunikasi politik dijalankan dan mesin organisasi digerakkan.
Karena itu, peresmian Rumah PAN menjadi semacam tanda bahwa PAN Sultra ingin memasuki fase baru.
Apalagi struktur partai kini diperkuat dengan pelantikan pengurus di tingkat wilayah hingga 17 kabupaten/kota.
Dengan struktur yang semakin lengkap, pekerjaan berikutnya adalah mengubah organisasi menjadi mesin elektoral.
Dan PAN Sultra sudah punya angka yang ingin dikejar.
Enam kursi.
Saat ini PAN memiliki tiga kursi di DPRD Provinsi Sultra. Artinya, partai harus menggandakan perolehan kursinya jika ingin mencapai target tersebut.
“Target kita sesuai dengan perencanaan adalah enam kursi, satu kursi per dapil. Sekarang kita ada tiga kursi, jadi harapannya bertambah tiga kursi lagi,” katanya.
Target satu kursi setiap dapil menunjukkan PAN tidak ingin hanya bertumpu pada satu atau dua wilayah basis.
Seluruh dapil dipandang sebagai medan perebutan suara.
Di sinilah tantangan sebenarnya dimulai.
Sebab kursi DPRD tidak ditentukan oleh seberapa besar target yang ditulis dalam rapat partai. Kursi lahir dari suara pemilih yang berhasil dikonsolidasikan pada hari pemungutan suara.
Maka pekerjaan PAN Sultra bukan hanya memperbanyak kader, tetapi memperkuat basis suara.
Kader harus turun ke lapangan. Calon legislatif harus mulai membangun jaringan. Struktur partai harus aktif membaca aspirasi masyarakat jauh sebelum masa kampanye tiba.
Dalam bahasa politik, PAN Sultra sedang mencoba melakukan recovery electoral sekaligus ekspansi basis.
Dari tiga kursi menuju enam kursi berarti ada tiga kursi tambahan yang harus direbut dari kompetitor.
Dan itu berarti pertarungan di enam dapil akan semakin menarik.
Agenda sosial berupa pembagian sembako kepada masyarakat juga memberi warna lain dalam konsolidasi tersebut.
Partai tidak ingin kehadirannya hanya terasa di ruang-ruang internal. Ada upaya membangun kedekatan langsung dengan masyarakat melalui kegiatan sosial.
Namun pekerjaan politik tidak berhenti pada satu acara.
Setelah panggung pelantikan selesai, spanduk diturunkan dan rombongan elite meninggalkan Kendari, ujian sesungguhnya justru dimulai.
Apakah struktur baru mampu bergerak?
Apakah kader mampu menjaga komunikasi dengan masyarakat?
Dan yang paling menentukan, mampukah PAN mengonversi konsolidasi organisasi menjadi suara?
Target enam kursi kini sudah diletakkan di atas meja.
Tiga kursi adalah modal awal.
Tiga kursi lagi adalah pekerjaan rumah.
Dan enam dapil menjadi arena pembuktian apakah PAN Sultra benar-benar mampu mengembalikan pengaruh politiknya di Bumi Anoa*

















