MAKASSAR, Kongkritpost.com- Ballroom Hotel Claro Makassar ramai, Kamis 26 Maret 2026. Suasana panas, tapi hangat. Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, duduk di podium. Tatapan tajam, kata-kata padat; energi mengalir ke setiap sudut ruangan.

FB IMG 1774523198080

“Jangan tanya apa yang kau dapat dari negara, tapi apa yang kau beri untuk negara,” katanya. Pendek, tapi menusuk. “Ikan busuk mulai dari kepalanya.” Kepala pemimpin harus bersih. Kepala bersih, badan ikut bersih. Rakyat ikut merasakan.

Semangat itu lahir dari Pulau Wawonii, masa kecilnya. Lihat masyarakat tulus menolong keluarga tanpa pamrih. Dari situlah integritas tumbuh. Dari situlah prinsip kerja nyata terbentuk. Sekarang, prinsip itu jadi gaya kepemimpinan, bukan sekadar slogan.

PSBM XXVI hadir bukan sekadar acara, tapi laboratorium ekonomi rakyat. Tema yang diusung: “Saudagar Tangguh, Ekonomi Tumbuh.” Dari seminar, forum diskusi, hingga Halal Bi Halal KKSS, semua berkumpul. Pemerintah, saudagar, investor, akademisi, duduk bersama; berbagi ide, peluang, strategi.

Sektor pertanian jadi sorotan utama. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengumumkan: Sultra dapat tambahan Cetak Sawah Rakyat 10 ribu hektare. Tepuk tangan menggema. Total kini 24.050 hektare. Sebelumnya 14.050. Angka sederhana, dampaknya nyata.

Ini bukan sekadar luasan tanah. Ini soal food security, agro-industry, value chain, dan multiplier effect. Sawah yang dicetak hari ini akan jadi lumbung pangan besok. Petani desa, pekerja lokal, pedagang kecil, semua merasakan efek domino. Uang berputar, ekonomi bergerak, lapangan kerja terbuka.

Gubernur menegaskan: sektor pangan adalah fondasi. “Kita ingin Sultra tangguh, bukan hanya di angka GDP, tapi di kenyataan,” katanya. Kalimat panjang, tapi mengena. Petani sejahtera, anak muda punya lapangan kerja, ekonomi bergerak dari bawah.

Forum ini membuka ruang kolaborasi lintas sektor. Bukan basa-basi. Diskusi tentang cetak sawah, penguatan agromaritim, teknologi pertanian, konektivitas pasar, semua nyata dan bisa dieksekusi. Ini strategy-driven development, pembangunan berbasis data dan kebutuhan riil masyarakat.

Gubernur menambahkan: tambahan sawah rakyat bukan sekadar simbol. Ini soal kapasitas produksi, ketahanan pangan, dan efek ekonomi bagi masyarakat luas. Setiap hektare, setiap benih, adalah investasi sosial-ekonomi. Dari sawah ke pasar, dari benih ke piring. Semua tersambung.

Pesan sederhana tapi jelas: Sultra aktif menyiapkan diri. Tidak menunggu pembangunan, tapi menjemputnya. Sawah dicetak, benih disiapkan, ekonomi dijalankan. Semua bagian dari satu visi: Sulawesi Tenggara sebagai pusat pertanian, pusat ekonomi baru, lumbung masa depan Indonesia.

Tidak berhenti di sana. Ide investasi, peluang kerja, dan penguatan ekonomi lokal menjadi topik panas di PSBM XXVI. Hotel, pusat perbelanjaan, kafe, transportasi, jasa lokal, semua mendapat sentuhan domino dari keputusan strategis. Ekonomi Sultra tidak diam; bergerak, memutar, menumbuhkan kesejahteraan nyata.

Dari podium, Gubernur menutup: “Bangun Sultra bersama, dari rakyat, untuk rakyat. Dari desa ke kota, dari lahan ke lumbung. Semua demi masa depan yang tangguh dan sejahtera.” Kalimat sederhana, tapi terdengar seperti mantra. Membekas di hati.

PSBM XXVI meninggalkan jejak. Forum bukan sekadar simbol, tapi ekosistem nyata. Investasi bukan sekadar uang, tapi energi, kreativitas, kolaborasi, dan keberanian mengeksekusi. 10 ribu hektare sawah bukan hanya lahan, tapi modal masa depan. Sultra siap melesat. Dari benih ke ekonomi, dari sawah ke lumbung, dari harapan ke kenyataan*