KENDARI, Kongkritpost.com- Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2025 digelar secara hybrid dan terpusat di Aula Wakatobi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara (KPwBI Sultra). Agenda strategis ini dihadiri unsur pemerintah, DPRD, perwakilan kabupaten/kota, pimpinan lembaga, serta berbagai mitra strategis di wilayah Sultra.

Kegiatan dibuka dengan paparan Deputi Kepala KPwBI Provinsi Sultra, Edwin Permadi, yang memotret kondisi ekonomi global–nasional dan proyeksi ekonomi 2025. Ia menyoroti berlanjutnya ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah yang menghambat rantai pasok dunia hingga kebijakan tarif dagang Amerika Serikat yang menekan konsumsi dan memperlemah ekspor.

Deputi Kepala KPwBI Sultra, Thathit Suryono, dalam sambutannya menyebut tekanan global turut mempengaruhi keyakinan pelaku ekonomi internasional. Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan perbaikan, termasuk pertumbuhan Eropa dan outlook global yang masih berada pada kisaran 2,3–3,2% sebagaimana diperkirakan IMF, World Bank, dan Bank Indonesia ujar Jumat (28/11/2025)

Di tengah tekanan tersebut, perekonomian Indonesia dinilai tetap tangguh. Konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan ekspor jasa menjadi penggerak utama. Inflasi nasional juga terjaga dengan baik berkat terkendalinya inflasi inti dan imported inflation. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berada di kisaran 4,7–5,5% dan meningkat pada 2026, ditopang sinergi fiskal–moneter dan kebijakan penguatan sektor prioritas.

Pada tingkat regional, kinerja perekonomian Sulawesi, Maluku, dan Papua tumbuh positif 4,96% (yoy) pada Triwulan III 2025. Sementara Sulawesi Tenggara mencatat pertumbuhan 5,65% (yoy), berada di atas rata-rata nasional. Pertumbuhan tersebut didorong lapangan usaha industri pengolahan berbasis ekspor serta meningkatnya konsumsi rumah tangga. Inflasi Sultra pada Oktober 2025 juga kembali terkendali melalui kerja TPID dan penerapan strategi 4K.

Digitalisasi ekonomi juga melaju pesat. Transaksi QRIS di Sultra tembus 23,29 juta transaksi, dengan jumlah merchant yang terus bertambah seiring akselerasi ekonomi digital.

Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Sulawesi Tenggara pada 2026 tumbuh lebih tinggi. Sektor pertanian diperkirakan semakin ekspansif, industri logam dasar akan menguat berkat masuknya rantai pasok baterai kendaraan listrik, dan kawasan industri strategis akan memberi dorongan signifikan. Meski pertumbuhan diperkirakan meningkat, risiko inflasi tetap perlu diantisipasi melalui sinergi kebijakan antar-stakeholders.

Asisten II Bidang Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Sultra yang mewakili Gubernur Sultra menyampaikan apresiasi terhadap sinergi BI Sultra dalam pengendalian inflasi, percepatan pertumbuhan ekonomi, serta mendorong digitalisasi daerah. Kontribusi BI dalam pemetaan sektor unggulan, penguatan UMKM, pengembangan ekosistem halal, hingga peningkatan inklusi keuangan disebut memberi dampak nyata terhadap ekonomi daerah.

Pemerintah Provinsi Sultra juga menyoroti keberhasilan percepatan digitalisasi sistem pembayaran melalui implementasi ETPD dan perluasan penggunaan QRIS hingga seluruh pemerintah daerah di Sulawesi Tenggara masuk kategori Pemda Digital.

Pada rangkaian acara yang sama, PTBI 2025 turut menghadirkan BI Sultra Award yang diberikan kepada 18 mitra strategis sebagai bentuk apresiasi atas sinergi dan inovasi dalam memperkuat ekonomi daerah sepanjang 2025. KPwBI Sultra menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh stakeholders guna menjaga stabilitas, memperkuat perekonomian, serta mewujudkan Sultra sebagai wilayah yang kompetitif dan berdaya saing tinggi( Red)