BUTON, Kongkritpost.com- Ini bukan lagi cerita sopir tangki atau pengecer nakal. Kasus dugaan penyalahgunaan BBM subsidi di Kabupaten Buton mulai mengarah ke sesuatu yang lebih besar—dan lebih berani.

Aromanya: jaringan.

Jaringan Aktivis Reformasi 98 (JARI 98) Cabang Buton tak mau kasus ini dipereteli di permukaan saja. Mereka menantang aparat: bongkar sampai ke akar.

Bukan sekadar siapa yang membawa. Tapi siapa yang bermain.

Dari hasil penelusuran lapangan, sumber solar subsidi yang diamankan aparat diduga kuat berasal dari SPBN Kondowa. Jika benar, ini bukan kebocoran biasa. Ini dugaan sistem yang “dibuka”.

“Kalau itu dari SPBN, berarti ada yang bermain di dalam. Ini tidak mungkin kerja orang kecil saja,” kata Ketua JARI 98 Buton, Almufakhir Idris, yang dikutib dari mediasekawan.com Sabtu (28/3/2026).

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. JARI 98 melihat ada pola. Ada alur distribusi yang seharusnya tertutup rapat—tetapi justru diduga bisa ditembus.

Di titik ini, kasus bergeser. Dari pelanggaran biasa menjadi dugaan praktik terorganisir.

Desakan pun mengeras. JARI 98 meminta penyidik tidak berhenti pada pelaku lapangan. Pengelola SPBN, rantai distribusi, hingga pihak yang diduga “mengamankan” jalur harus diperiksa.

Yang membuat kasus ini makin sensitif: munculnya dugaan keterlibatan oknum aparat.

JARI 98 menyebut satu inisial: S. Disebut-sebut dan diduga berasal dari unsur Polairud. Perannya? Diduga sebagai “pelindung”.

“Kalau benar ada aparat di belakangnya, ini harus dibuka. Jangan ada yang dilindungi. Hukum harus berdiri sama rata,” tegas Idris.

Nada itu jelas: keras, terbuka, tanpa kompromi.

Publik kini menunggu. Apakah aparat berani masuk lebih dalam? Atau kasus ini akan berhenti di level bawah—seperti yang sudah-sudah?

JARI 98 memastikan tidak akan mundur. Mereka mengaku siap mengawal hingga proses hukum tuntas, bahkan jika harus menyeret perkara ini ke sorotan nasional.

Permintaan juga diarahkan ke Divisi Propam Polri. Jika dugaan keterlibatan aparat benar, maka pemeriksaan internal wajib dilakukan.

Di sisi lain, penyidik Unit Tipiter Satreskrim Polres Buton masih bekerja. Penelusuran jaringan distribusi terus dilakukan, termasuk mendalami dugaan asal BBM dari SPBN Kondowa.

Namun hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian setempat belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi kepada Kapolres dan Kasat Reskrim belum berhasil.

Kasus ini kini berada di persimpangan.

Antara dibongkar… atau dibiarkan menguap*