KOLAKA, Kongkritpost.com- Langkah Gubernur SulawesinTenggara Andi Sumangerukka memasuki ruang pembukaan Musrenbang bukan sekadar seremoni. Ia diawali dengan sentuhan budaya—Tarian Mekongga—yang menyambutnya dengan khidmat di Hotel Sultan Raja, Selasa (5/5/2026).

Tarian itu bukan hanya suguhan visual. Ia menjadi simbol: bahwa pembangunan di Sulawesi Tenggara tidak boleh tercerabut dari akar budayanya.

Di forum itu, Gubernur Sultra  langsung menggeser suasana dari seremoni ke substansi. Tema besar Musrenbang RKPD 2027 ditegaskan—akselerasi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, dengan satu tujuan utama: kesejahteraan masyarakat.

“Ini bukan sekadar slogan. Ini arah yang harus kita jalankan bersama,” tegasnya

Arah itu diterjemahkan ke dalam beberapa fokus utama. Ekonomi harus dipacu lebih cepat, tapi tidak boleh hanya dinikmati segelintir pihak. Pembangunan harus menyentuh wilayah kepulauan hingga pedalaman—wilayah yang kerap tertinggal dalam arus besar pertumbuhan.

Di sisi lain, keberlanjutan menjadi kata kunci. Sumber daya alam Sultra yang melimpah tidak boleh dieksploitasi tanpa perhitungan. Generasi berikutnya harus tetap punya ruang hidup yang layak.

Tak kalah penting, kualitas sumber daya manusia ikut disorot. Pendidikan dan kesehatan disebut sebagai fondasi utama agar Sultra tidak hanya kaya sumber daya, tetapi juga kuat dalam daya saing.

Musrenbang ini pun diposisikan sebagai titik temu—antara provinsi, kabupaten/kota, hingga para pemangku kepentingan. Sinkronisasi bukan lagi pilihan, tapi keharusan.

“Setiap anggaran harus menghasilkan dampak nyata. Kita tidak ingin program hanya selesai di atas kertas,” ujar Gubernur.

Dari tarian pembuka hingga arah kebijakan yang ditegaskan, satu pesan terasa jelas: Sulawesi Tenggara sedang berusaha menyeimbangkan dua hal—menjaga identitas, sekaligus melaju mengejar masa depan*