JAKARTA, Kongkritpost.com- Ada yang istimewa di JW Luwansa Hotel and Convention, Minggu (22/6/2025) siang itu. Suasana pelantikan BPP KKSS terasa bukan sekadar seremoni. Ini lebih dari rotasi kepengurusan. Ini tentang pengakuan. Tentang representasi. Tentang babak baru.
Salah satu nama yang menyita atensi adalah Dr. Sofyan, SE., MM. Bukan karena sorotan kamera. Bukan pula karena gelarnya. Tapi karena jejak yang ia bawa: Ketua Himas Sultra yang kini naik kelas ke panggung nasional sebagai Wakil Sekretaris Jenderal BPP KKSS Periode 2025–2030.
Sosoknya dikenal tenang. Kalem. Tapi punya visi tajam. Kharismanya bukan hasil polesan, tapi terbentuk dari konsistensi: membangun komunitas Sinjai di Sulawesi Tenggara dengan semangat guyub dan kolaboratif.
Kini, amanahnya lebih luas. Tak lagi hanya untuk Sultra. Tapi untuk seluruh keluarga besar Sulawesi Selatan di rantau.
Penunjukan Dr. Sofyan ke jajaran strategis BPP KKSS bukan kebetulan. Ini reposisi representasi—upaya menyandingkan kekuatan Sultra dalam struktur pengambilan kebijakan organisasi paguyuban terbesar warga Sulawesi Selatan itu.
Dalam struktur Sekretariat Jenderal, posisi Wakil Sekjen bukan sekadar administratif. Ia adalah ruang kendali. Di sinilah narasi organisasi ditulis dan arah program diselaraskan. Dan Dr. Sofyan tahu betul cara menulis narasi itu.
Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP, BPP KKSS memang tengah menjalani fase transformatif. Struktur diperkuat. Figur-figur baru dimunculkan. Termasuk dari Sultra.
Dr. Sofyan membawa modal sosial yang tak kecil: jaringan lintas wilayah, pengaruh komunitas, dan integritas pengabdian. Ia akan menjadi jembatan dua arus: antara aspirasi masyarakat di daerah dan kebijakan organisasi di pusat.
Pelantikan yang dihadiri ratusan tokoh dari berbagai provinsi itu seperti sebuah orkestra. Tiap individu memainkan peran. Dan Dr. Sofyan memegang nada koordinasi.
Ia akan terlibat langsung dalam desain kebijakan, manajemen internal, serta mengawal sinkronisasi program kerja lintas bidang. Kepada media, ia menyampaikan, “Ini bukan soal posisi. Ini tentang tanggung jawab kolektif. Saya hanya bagian dari orkestra besar ini. Kita semua harus selaras.”
Tak hanya Dr. Sofyan, beberapa tokoh dari Sultra juga ikut masuk dalam struktur BPP KKSS terbaru. Ini bukan cuma soal representasi. Tapi tentang tekad menyatukan kekuatan rantau.
Karena KKSS bukan hanya wadah nostalgia. Ia adalah platform kolektif untuk menumbuhkan peran perantau dalam pembangunan daerah asal dan bangsa.
Dr. Sofyan kini bukan sekadar ketua paguyuban daerah. Ia telah menjelma menjadi tokoh nasional KKSS. Dan pelantikannya bukanlah garis akhir. Tapi garis mula.
Tanda tanya kini bukan pada kapasitasnya—tapi pada langkah strategis berikutnya. Akankah Sultra tampil lebih kuat di arena KKSS?
Jika ya, maka satu nama yang akan dicatat sejarahnya: Dr. Sofyan, SE., MM( Red)




