KENDARI, Kongkritpost.com- Pasar Wua-Wua selama ini lebih sering disebut daripada dikunjungi. Bangunannya ada. Aktivitasnya minim. Denyut ekonominya pelan. Bahkan nyaris tak terdengar.
Kini, pasar itu hendak “direstart”.
Lewat tangan Perumda Pasar Kota Kendari, Wua-Wua disiapkan menjadi pasar tematik pakaian bekas—segmen yang selama ini justru hidup dan berkembang di berbagai sudut Kota Kendari.
Direktur Perumda Pasar, Asnar, menyebut langkah ini sebagai strategi konkret, bukan sekadar tambal sulam.
“Pasar Wua-Wua sengaja kami jadikan pasar tematik pakaian bekas. Kami ingin pedagang yang selama ini tersebar bisa terpusat di satu lokasi,” ujarnya Sabtu (21/2/2026)
Bahasanya sederhana: konsolidasi dulu, baru akselerasi.
Selama ini, pedagang thrifting berjualan berpindah-pindah. Ada yang di pinggir jalan, ada yang di titik-titik keramaian. Aktivitas ada, tapi tak terkonsolidasi. Potensi ekonomi terpecah.
Padahal, tren pakaian bekas bukan lagi kelas bawah. Ia sudah naik kasta. Dari kebutuhan rakyat sampai gaya hidup anak muda urban. Perputaran uangnya cepat. Pasarnya stabil. Bahkan punya komunitas loyal.
Di sinilah Perumda membaca peluang.
Pasar tematik dinilai bisa menjadi magnet baru. Jika satu komoditas kuat dikumpulkan dalam satu titik, pembeli akan datang karena tahu pusatnya. Pedagang pun punya ekosistem yang jelas.
Wua-Wua yang lama “mati suri” diharapkan berubah menjadi sentra thrifting Kendari.
Asnar juga mengajak pedagang lama yang pernah berjualan di Wua-Wua untuk kembali meramaikan pasar tersebut. Ia optimistis, jika satu sektor sudah bergerak, sektor lain akan ikut tumbuh.
Namun langkah ini tak sepenuhnya mulus. Muncul isu soal potensi pelanggaran regulasi terkait kebijakan tersebut. Asnar menegaskan, pihaknya tidak memiliki niat melanggar aturan apa pun.
“Tidak ada niat untuk melanggar regulasi. Kami hanya ingin menghidupkan pasar dan membantu pedagang kecil,” tegasnya.
Ia memastikan pengelolaan pasar tetap terbuka untuk evaluasi agar berjalan sesuai ketentuan.
Secara makro, ini bukan cuma soal pakaian bekas. Ini soal bagaimana aset daerah yang lama stagnan diberi “nafas baru”. Banyak pasar tradisional tumbang karena tak mampu beradaptasi dengan zaman. Tanpa diferensiasi, pasar hanya jadi bangunan kosong.
Wua-Wua kini sedang diuji.
Apakah konsep tematik ini akan jadi game changer? Atau sekadar euforia awal?
Yang jelas, mesin sudah dinyalakan. Tinggal menunggu: apakah Wua-Wua benar-benar bangkit, atau kembali redup di tengah jalan(Red)



