KENDARI, Kongkritpost.com- Namanya mendadak jadi bahan pembicaraan. bukan karena pidato. Bukan karena jabatan. Tapi karena satu momen: turun dari jet pribadi di tanah Muna.
La Ode Safiul Akbar Gani. sosok yang sebelumnya nyaris tak terdengar di ruang publik lokal, tiba-tiba viral. Video kedatangannya menyebar cepat di grup WhatsApp. Percakapan warga langsung hidup jelas Senin (23/3/2026)
“Siapa dia?”
Pertanyaan itu berulang di banyak sudut. Belakangan terungkap, alasan di balik keputusan dengan jet pribadi itu bukan sekadar gaya hidup. Ada cerita yang lebih personal.
Safiul—begitu ia akrab disapa—membawa pulang ibunya ke kampung halaman. Dalam kondisi yang membutuhkan perhatian khusus, perjalanan panjang dengan penerbangan komersial dinilai tidak ideal.
Jet pribadi dipilih. Demi kenyamanan. Demi keamanan. keputusan itu yang kemudian memantik rasa penasaran publik.
Siapa sebenarnya Safiul?
Jejaknya tidak terlalu ramai di pemberitaan daerah. Tapi jika ditelusuri, langkahnya panjang—dan tidak sederhana.
Ia lahir dan besar di Muna, menamatkan pendidikan dasar di Sulawesi Tenggara. Setelah itu, ia merantau ke Pulau Jawa, menempuh pendidikan menengah di lingkungan pesantren hingga perguruan tinggi.
Perjalanannya belum berhenti di situ. Ia melanjutkan studi ke luar negeri dan meraih gelar MBA dari Ateneo de Manila University melalui AGSB, dengan dukungan beasiswa ITSMI.
Kembali ke Indonesia, Safiul tidak langsung pulang kampung. Ia memilih Jakarta—kota yang keras, tapi penuh peluang. Di sana, ia membangun pengalaman di dunia usaha, sekaligus aktif di berbagai organisasi kepemudaan.
Namanya sempat masuk dalam pusaran politik. Ia pernah maju sebagai calon anggota DPR RI dari Partai Golkar untuk daerah pemilihan Sulawesi Tenggara. Ia juga pernah berada di struktur DPP Golkar pada masa kepemimpinan Aburizal Bakrie, serta aktif di organisasi sayap partai.
Di jalur organisasi, jejaknya juga panjang. Ia pernah menjabat sebagai Ketua OKK di DPP KNPI, Ketua Kaderisasi di DPP AMPI, hingga aktif di HIPMI pada era kepemimpinan Erwin Aksa dan Raja Sapta Oktohari.
Namun pada 2014, ia mengambil keputusan besar. Keluar dari politik. Masuk penuh ke dunia usaha.
Langkah itu membawanya bertemu dengan banyak tokoh nasional, termasuk Bahlil Lahadalia—yang saat itu juga dikenal sebagai pengusaha. Dari sana, terbentuk relasi profesional yang berkembang menjadi kerja sama bisnis.
Ketika Bahlil kemudian dipercaya sebagai menteri dan memimpin Partai Golkar, Safiul kembali masuk dalam struktur partai sebagai salah satu Ketua DPP yang membidangi ketenagakerjaan dan pengembangan profesi.
Kini, ia juga menjabat sebagai Sekretaris di Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (GAPENSI), organisasi yang menaungi para kontraktor nasional.
Meski demikian, di kampung halamannya sendiri, namanya masih terasa “asing” bagi sebagian masyarakat.
Karena itu, ketika ia pulang—bukan dengan cara biasa, melainkan turun dari jet pribadi—rasa penasaran publik pun memuncak.
Ia datang tanpa banyak suara. Tapi sekali muncul, langsung jadi cerita*





