KENDARI, Kongkritpost.com- Di tengah ritme birokrasi yang sering lambat dan penuh tahapan, Gubernur Sulawesi Tenggara Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka memilih jalur cepat. Bukan menunggu APBD Perubahan, bukan menanti meja administrasi selesai berputar, tetapi langsung membuka dompet pribadi.

Sabtu malam (26 April 2026), di panggung utama perayaan HUT Sultra kawasan MTQ Kendari, Gubernur mengumumkan alokasi Rp1,8 miliar untuk beasiswa mahasiswa Sultra. Dana itu bukan berasal dari kas daerah, melainkan dari yayasan pribadinya.

Pesannya jelas: ketika urusan pendidikan mendesak, waktu tak boleh habis hanya untuk menunggu stempel.

Beasiswa tersebut direncanakan mulai disalurkan pada Mei 2026. Pendaftaran akan dibuka pekan depan, dilanjutkan proses seleksi agar bantuan tepat sasaran bagi mahasiswa yang benar-benar membutuhkan ujar Sabtu Malam (25/42026)

ā€œDananya dari pribadi saya sehingga tidak perlu tunggu waktu dan proses yang lama. Beasiswa ini untuk membantu mahasiswa yang memang membutuhkan,ā€ ujar Gubernur.

Kalimat itu sederhana, tetapi tajam. Sebab publik sudah terlalu akrab dengan cerita bantuan pendidikan yang tersangkut prosedur, bergeser jadwal, atau hilang di lorong administrasi. Ketika kepala daerah turun langsung memakai dana pribadi, publik membaca dua hal sekaligus: kepedulian dan kritik diam terhadap lambannya sistem.

Fakta lain ikut disinggung Gubernur. Program beasiswa Pemprov Sultra yang dibuka sejak 2025 ternyata menarik sekitar 3.000-an pendaftar. Angka itu menunjukkan kebutuhan bantuan pendidikan di Sultra sangat besar. Banyak mahasiswa berjuang kuliah di tengah tekanan biaya hidup, uang semester, kos, buku, dan transportasi.

Namun program resmi pemerintah belum bisa direalisasikan karena menunggu APBD Perubahan 2026 disahkan. Di sinilah paradoks sering terjadi: semangat membantu ada, anggaran ada di rencana, tetapi waktu berjalan lebih cepat dari mekanisme.

Langkah Andi Sumangerukka tentu akan disambut hangat kalangan mahasiswa. Namun lebih dari itu, kebijakan ini memberi pesan politik yang cerdas: pemimpin bukan hanya berbicara soal generasi muda, tetapi ikut menanggung bebannya.

Bagi mahasiswa, beasiswa bukan sekadar uang. Ia bisa menjadi alasan untuk tetap bertahan kuliah, mencegah putus studi, atau menunda keputusan pulang kampung karena biaya tak cukup. Satu bantuan kadang menyelamatkan satu masa depan.

Kini perhatian publik tertuju pada mekanisme pendaftaran pekan depan. Siapa penerima, bagaimana seleksi dilakukan, dan seberapa merata jangkauannya akan menjadi ukuran keseriusan program ini.

Namun satu hal sudah terbaca jelas malam itu di Kendari: saat sistem masih menunggu perubahan anggaran, Gubernur Sultra memilih tidak menunggu perubahan keadaan mahasiswa*