KENDARI, Kongkritpost.com- Di tengah dinamika perdagangan global yang kian kompleks, Bea Cukai Kendari memilih memainkan dua peran sekaligus: fasilitator bisnis dan penjaga gerbang negara. Melalui ajang “Bea Cukai Kendari Awards 2026” yang digelar di aula Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Sulawesi Tenggara, Kamis (30/4/2026), institusi ini menegaskan pentingnya kolaborasi sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala Kanwil DJPb Sulawesi Tenggara, Iman Widhiyanto, menekankan bahwa iklim usaha tidak cukup hanya ditopang oleh regulasi ketat. Ada kebutuhan untuk membangun kepercayaan melalui pelayanan yang adaptif. Dalam konteks ini, keseimbangan antara pengawasan dan kemudahan layanan menjadi strategi utama.
Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Data kinerja Bea Cukai Kendari sepanjang 2025 menunjukkan capaian yang melampaui ekspektasi. Realisasi penerimaan negara menembus 123,56 persen dari target, dengan angka Rp279,22 miliar. Sementara itu, penerimaan pajak dari aktivitas impor mencapai Rp2,2 triliun—indikasi kuat meningkatnya aktivitas perdagangan.
Tren ini berlanjut pada awal 2026. Dalam tiga bulan pertama, penerimaan telah mencapai Rp179,1 miliar. Angka ini memberi sinyal bahwa geliat ekonomi Sulawesi Tenggara masih terjaga, meskipun bayang-bayang ketidakpastian global belum sepenuhnya reda.
Namun, capaian angka bukan satu-satunya cerita. Pergeseran struktur ekonomi mulai terlihat. Selama ini, Sulawesi Tenggara identik dengan ekspor berbasis tambang. Kini, sektor non-tambang perlahan mengambil panggung. Ekspor ubur-ubur dari Kabupaten Buton dan arang tempurung kelapa dari Konawe Selatan menjadi contoh konkret diversifikasi ekonomi yang mulai berjalan.
Munculnya 15 eksportir baru juga menandai perubahan pola pelaku usaha. Ini bukan hanya soal bertambahnya pemain, tetapi juga indikasi bahwa akses terhadap pasar global semakin terbuka. Meski demikian, keberlanjutan tren ini masih perlu diuji—terutama dalam hal daya saing produk, stabilitas kualitas, dan dukungan infrastruktur logistik.
Di sisi lain, fungsi pengawasan tetap diperketat. Dalam triwulan pertama 2026, Bea Cukai Kendari menindak jutaan batang rokok ilegal, narkotika, hingga ratusan liter minuman beralkohol ilegal. Data ini menunjukkan bahwa aktivitas ilegal masih menjadi ancaman nyata di tengah meningkatnya arus barang.
Pendekatan yang digunakan pun mulai bergeser. Melalui program “customs visit”, aparat tidak hanya bertindak sebagai penegak hukum, tetapi juga mitra konsultatif bagi pelaku usaha. Model ini dinilai lebih efektif dalam membangun kepatuhan jangka panjang dibanding sekadar penindakan.
Ajang penghargaan yang digelar menjadi simbol dari narasi besar tersebut: membangun ekosistem perdagangan yang transparan dan kolaboratif. Namun, di balik seremoni, tantangan substantif tetap ada. Konsistensi kebijakan, integritas aparat, serta keberpihakan pada pelaku usaha kecil akan menjadi faktor penentu keberhasilan jangka panjang.
Sulawesi Tenggara kini berada dalam fase transisi—dari ekonomi berbasis ekstraktif menuju ekonomi yang lebih beragam. Dalam proses ini, Bea Cukai Kendari memegang peran strategis. Pertanyaannya, apakah sinergi yang dibangun hari ini cukup kuat untuk bertahan saat tekanan ekonomi datang*




