KONUT, Kongkritpost.com- Permandian Wisata Air Panas Wawolesea di Desa Wawolesea, Kecamatan Wawolesea, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara terus memperlihatkan tren kunjungan yang menggembirakan. Meski masa libur panjang telah berakhir, destinasi wisata alam yang dikenal dengan sumber air panas alaminya itu masih dipadati wisatawan dari berbagai wilayah di Sulawesi Tenggara bahkan wisatawan mancanegara.

Keunikan kolam air panas yang berada di kawasan pesisir berpadu dengan hutan mangrove menjadikan tempat ini memiliki daya tarik yang berbeda dibandingkan objek wisata lain. Pengunjung tidak hanya datang untuk berendam, tetapi juga menikmati panorama alam, berjalan di jalur mangrove, hingga mengabadikan momen di berbagai sudut kawasan.
Koordinator Pengelola Permandian Air Panas Wawolesea, Ginda Ishak, mengatakan lonjakan kunjungan masih terasa terutama setiap akhir pekan. Menurutnya, Sabtu dan Minggu menjadi waktu favorit masyarakat untuk berwisata bersama keluarga.

“Pengunjung masih cukup ramai. Banyak yang datang dari Kendari, Konawe, Kolaka, Konawe Utara dan daerah lainnya. Bahkan ada juga wisatawan dari luar negeri yang penasaran dengan sumber air panas alami di sini,” ujarnya saat ditemui, Minggu (5/7/2026).
Ginda menjelaskan, kolam air panas alami di bagian atas kawasan masih menjadi lokasi yang paling diminati. Hampir setiap wisatawan yang baru pertama kali datang selalu menanyakan keberadaan kolam tersebut karena menjadi ikon utama destinasi ini.

Menurutnya, kondisi sumber air panas saat ini tetap terjaga sehingga wisatawan dapat menikmati sensasi berendam dengan nyaman. Air panas yang muncul secara alami dari perut bumi menjadi keunikan yang sulit ditemukan di banyak tempat.
Ramainya kunjungan juga diimbangi dengan komitmen pengelola menjaga kebersihan kawasan. Setiap hari Senin, seluruh pengelola bergotong royong membersihkan kolam, jalur pejalan kaki, kawasan mangrove hingga area yang sering digunakan wisatawan.

“Kami ingin pengunjung selalu merasa nyaman. Karena itu, setelah akhir pekan seluruh pengelola bersama-sama membersihkan kawasan agar tetap bersih dan asri,” katanya.
Meski demikian, pengelola berharap perhatian pemerintah terus ditingkatkan. Salah satu kebutuhan yang dinilai mendesak adalah pembangunan kolam air tawar sebagai pelengkap fasilitas sehingga wisatawan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas selain berendam di air panas.

Selain itu, peningkatan infrastruktur dan pemeliharaan fasilitas juga dianggap penting agar daya saing destinasi ini semakin kuat sebagai salah satu ikon wisata Konawe Utara.
Harapan serupa disampaikan Muhammad Iqbal, salah seorang pengunjung. Menurutnya, suasana Permandian Air Panas Wawolesea sangat cocok dijadikan lokasi berlibur bersama keluarga.

“Tempatnya sangat bagus. Yang paling menarik tentu pemandian air panasnya. Semoga kebersihan tetap dijaga dan fasilitas lainya agar semakin nyaman,” katanya.
Manfaat ramainya kunjungan juga dirasakan pelaku usaha di sekitar kawasan wisata. Weranti, salah seorang pelaku UMKM, mengaku jumlah wisatawan meningkat signifikan pada akhir pekan maupun hari libur nasional, terutama ketika debit air panas dari mata air sedang melimpah.

Menurutnya, kondisi tersebut membawa dampak langsung terhadap pendapatan pedagang. Dalam sehari saat kunjungan ramai, omzet yang diperoleh bisa mencapai ratusan ribu rupiah, meski sebagian wisatawan membawa bekal sendiri.
Weranti berharap promosi destinasi ini semakin digencarkan melalui media sosial maupun program promosi pariwisata pemerintah daerah.
“Kalau promosi semakin masif, saya yakin pengunjung akan terus bertambah. Dampaknya bukan hanya untuk objek wisatanya, tetapi juga bagi pedagang dan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Besarnya potensi Permandian Air Panas Wawolesea diyakini mampu menjadi penggerak ekonomi lokal. Peningkatan jumlah wisatawan tidak hanya berpeluang menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata, tetapi juga menghidupkan UMKM, membuka lapangan usaha baru, serta memperkuat posisi Konawe Utara sebagai salah satu tujuan wisata unggulan di Sulawesi Tenggara. Dengan dukungan infrastruktur, fasilitas, dan promosi yang berkelanjutan, destinasi ini dinilai memiliki peluang besar berkembang menjadi ikon wisata alam yang dikenal lebih luas di Indonesia(Red)









