KENDARI, Kongkritpost.com- Mengawali pengabdiannya di Bumi Anoa, Komandan Korem (Danrem) 143/Halu Oleo Brigjen TNI Hamim Tohari memilih mengetuk pintu kebersamaan. Ia tidak datang dengan sederet pernyataan tentang kewenangan, melainkan menyampaikan permohonan dukungan kepada seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan masyarakat Sulawesi Tenggara.

Ada istilah Jawa yang digunakannya untuk mengawali tugas tersebut: kulon nuwun.

Ungkapan itu bukan sekadar basa-basi. Dalam tradisi Jawa, kulon nuwun merupakan bentuk permisi, penghormatan, sekaligus permohonan agar kehadiran seseorang diterima dengan baik.

“Kalau istilah orang Jawa, kulon nuwun. Kami mohon dibukakan pintu untuk bisa bertugas di Korem 143/Halu Oleo di wilayah Sulawesi Tenggara ini,” ujar Brigjen TNI Hamim, Kamis (5/11/2026).

Pesan tersebut sekaligus menjadi penanda awal kepemimpinannya di jajaran Korem 143/HO. Hamim menyadari, menjalankan tugas di wilayah baru tidak cukup hanya mengandalkan struktur komando. Diperlukan komunikasi, kepercayaan, dan kerja sama dengan berbagai pihak.

Apalagi, Sulawesi Tenggara memiliki karakteristik wilayah yang khas. Potensi sumber daya alam dan pembangunan daerah berjalan beriringan dengan dinamika sosial yang membutuhkan perhatian.

Karena itu, ia secara terbuka meminta dukungan para kepala daerah, Kapolda Sultra, Kajati Sultra, serta seluruh pemangku kepentingan.

Menurutnya, menjaga keamanan dan ketertiban bukan pekerjaan satu institusi. Stabilitas daerah justru akan lebih kuat apabila seluruh unsur pemerintahan dan aparat penegak hukum mampu membangun koordinasi yang baik.

Hamim juga berharap situasi kondusif yang selama ini terpelihara di Sulawesi Tenggara dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan.

Ia tidak menutup mata terhadap kemungkinan munculnya persoalan sosial di tengah masyarakat. Justru karena itu, komunikasi lintas sektor dinilai penting agar setiap dinamika dapat diantisipasi dan ditangani secara tepat.

“Wilayah Sultra ini unik. Punya potensi besar, tetapi juga menyimpan potensi kerawanan sosial yang tidak ringan. Kami mohon dukungan dan kerja sama dari Bapak-Bapak sekalian agar kita bisa menghadapi dinamika sosial dengan baik dan menjaga situasi tetap kondusif,” ungkapnya.

Di balik pendekatannya yang mengedepankan kebersamaan, Hamim bukan sosok baru dalam penugasan kewilayahan.

Perwira tinggi TNI AD ini merupakan lulusan Akademi Militer 1994. Sepanjang perjalanan kariernya, ia pernah mengemban sejumlah jabatan strategis, termasuk Komandan Kodim Jakarta Timur pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Penugasan tersebut memberinya pengalaman menghadapi kompleksitas persoalan keamanan di wilayah perkotaan, termasuk mendukung berbagai agenda kenegaraan dengan tingkat kesiapsiagaan tinggi.

Ia juga pernah menjabat Asisten Intelijen Kasdam XIV/Hasanuddin. Pengalaman di bidang intelijen kewilayahan menjadi salah satu bekal dalam membaca perkembangan situasi, memetakan potensi kerawanan, serta mengantisipasi berbagai persoalan di daerah.

Dalam kehidupan keluarga, Hamim didampingi istrinya, Ny. Ira Kusuma Dewi. Pasangan ini dikaruniai dua anak laki-laki. Anak pertama berdomisili di Jakarta, sedangkan anak kedua sedang menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Udara (AAU) sekaligus mengikuti pendidikan sekolah penerbang.

Kini, Sulawesi Tenggara menjadi wilayah pengabdian berikutnya bagi Brigjen Hamim.

Permohonan kulon nuwun yang disampaikannya menjadi pesan awal bahwa membangun keamanan daerah membutuhkan lebih dari sekadar kehadiran aparat. Ada kepercayaan masyarakat, komunikasi antarlembaga, dan kesediaan untuk berjalan bersama.

Sebab, kondusivitas sebuah daerah bukan hanya tanggung jawab mereka yang berseragam. Ia merupakan kepentingan bersama seluruh elemen masyarakat*